"Untuk dokter spesialis itu masih ada sekitar 13 dokter spesialis yang masih siaga dan bertahan untuk melayani korban demo, jadi untuk dokter spesialis itu sudah cukup," kata Koordinator Tim Gabungan Kesehatan Dinas Kesehatan dan TNI/Polri di Wamena, Paminto Widodo, Selasa (1/10.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masih kekurangan karena ada tenaga kesehatan yang berupaya menyelamatkan keluarganya," ujarnya.
Sementara itu per Selasa (110) petang, jumlah pasien korban unjuk rasa yang masih dirawat di RSUD Wamena adalah 14 orang.
"Pasien korban demo yang dilayani di RSUD Wamena sampai kemarin itu ada 99 orang, namun yang lainnya dirujuk dan sebagian lagi sudah pulang," kata Paminto.
"Jumlah pasien yang meninggal dan ditandatangani berkasnya oleh Direktur RSUD Wamena sebanyak 31 jiwa, namun dua di antaranya meninggal bukan karena kerusuhan," katanya.
Kedua pasien itu, menurut dia, sudah lama sakit dan dirawat di RSUD Wamena lalu meninggalnya juga di rumah sakit, kedua pasien itu meninggal bersamaan dengan 29 korban yang meninggal karena dampak kerusuhan Wamena.
Ia menambahkan, kini sasaran pelayanan kesehatan dari Tim Kesehatan dari Kabupaten Jayawijaya dan dari Dinas Kesehatan Provinsi di 18 titik pengungsi di Wamena.
[Gambas:Video CNN]
Unjuk rasa yang berujung kerusuhan di Wamena, pada Senin, 23 September 2019. Selain menimbulkan korban tewas, aksi rusuh itu juga menyebabkan kerusakan materi di antaranya ratusan bangunan milik pemerintah maupun swasta. Kejadian itu mengakibatkan hingga kemarin, pasar tradisional dan pertokoan sudah mulai buka walaupun jumlahnya masih sedikit, sekolah masih diliburkan.
Pemerintahan belum normal, jumlah pengungsi sangat fluktuatif karena adanya penambahan dari kabupaten tetangga, masyarakat yang akan keluar dari Wamena juga masih cukup tinggi.
Lihat juga:Polri Tetapkan 7 Tersangka Kerusuhan Wamena |