Dalam proses pemungutan suara untuk memilih Ketua DPD RI, Selasa (1/10) malam, La Nyalla maraup 47 suara, beda tipis dari anggota DPD asal Maluku Nono Sampono yang mendapatkan 40 suara. Di bawahnya, ada senator asal Kalimantan Timur Mahyudin (28 suara), dan senator asal Bengkulu Sultan Bachtiar Najamuddin (18 suara).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip dari situs pribadinya, www.lanyallamm.com, lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Brawijaya (1977-1984) itu pernah menjabat Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur, Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur.
![]() |
Pada periode kepemimpinan La Nyalla itu, PSSI baru saja dijatuhi sanksi oleh Menpora Imam Nahrawi akibat kebijakan PSSI soal hasil rekomendasi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) yang tidak meloloskan Arema Malang dan Persebaya Surabaya ke liga.
Di tengah konflik tersebut, La Nyalla diterpa kasus korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2011 - 2014 saat menjadi Ketua Kadin Jatim. Ia kemudian ditetapkan tersangka. Kongres Luar Biasa PSSI memutuskan untuk memaksa La Nyalla mundur.
Panggung Politik
La Nyalla pernah menjadi bagian tim sukses Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto saat Pilpres 2009. Lima tahun kemudian, ia kembali jadi bagian timses Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dia pun menjadi bagian Partai Gerindra.
Januari 2018, La Nyalla mengaku dimintai mahar politik Rp40 miliar diduga oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto jika ingin dicalonkan sebagai Gubernur Jawa Timur. Pihak Gerindra membantah dan menyebutnya gagal mencari partai koalisi di Pilkada Jatim.
La Nyalla mengaku sempat membantu menyebarkan Tabloid Obor Rakyat, yang petingginya sudah divonis bersalah dalam kasus hoaks. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah) |
Setelah bergabung PBB, La Nyalla menggelar konferensi pers untuk mengungkap pengakuan telah menyebarkan fitnah soal Jokowi pada Pilpres 2014. Saat itu, La Nyalla masih menjadi anggota timses Prabowo-Hatta.
Fitnahnya adalah bahwa Jokowi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), pemeluk agama Kristen, serta keturunan China. Selain itu, La Nyalla juga mengaku membantu penyebaran tabloid Obor Rakyat hingga 100 truk. Kabar tersebut disebar oleh La Nyalla lewat broadcast menggunakan Blackberry.
La Nyalla berhasil meraih lebih dari 2,2 juta suara atau peringkat kedua di bawah Evi Zainal Abidin yang meraup 2,4 juta suara.
"Terima kasih kepada rakyat Jatim yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk menjalankan amanah ini," ujarnya.
Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon) |
(arh/gil)

La Nyalla mengaku sempat membantu menyebarkan Tabloid Obor Rakyat, yang petingginya sudah divonis bersalah dalam kasus hoaks. (
Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. (