Berdasarkan pantauan satelit LAPAN, dari 1.361 titik api yang ada di Indonesia, 610 titik di antaranya berada di wilayah Sumsel pada Selasa (1/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini meningkat pada pukul 03.00 WIB menjadi 486,61, lalu pada pukul 04.00 WIB menjadi 498,60. Titik paling perbahaya terjadi pada pukul 05.00-06.00 WIB dengan konsentrasi pm10 624,71-649,72 mikrogram per meter kubik.
Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Ansori mengatakan selama 4 hari, yakni pada 24-27 September, sebagian wilayah Sumsel sempat diguyur hujan.
Namun, kata dia, titik api yang berada di wilayah gambut tidak terpengaruh. pasalnya, kata dia, intensitas hujan yang mengguyur hanya memadamkan api di permukaan, namun tidak untuk api yang membakar gambut dalam.
"Kebanyakan titik api tersebut ada di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 505 titik api. Di sana wilayah gambut dalam paling luas," jelas Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Sumsel, Ansori Rabu (2/10).
"Waterbombing juga tidak maksimal karena air yang ditumpahkan hanya memadamkan api di permukaan. Sementara api di dalamnya masih menyala. Tinggi gambutnya bisa mencapai 30 meter itu tidak bisa diakses lewat darat," kata dia.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran Satgas Karhutla menggeser pasukan yang bertugas di Ogan Ilir untuk membantu pemadaman di OKI.
(idz/arh)