Aksi tersebut dilakukan untuk menyampaikan bela sungkawa serta solidaritas bagi 2 mahasiswa yang tewas saat unjuk rasa di Kendari, Sulawesi Tenggara, beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masa aksi menyalakan lilin, sebagiannya dipegang dan lainnya membentuk huruf SOS di tanah. Massa kemudian mengheningkan cipta serta melantunkan beberapa lagu solidaritas. Aksi berlangsung hingga pukul 21.00 WIB.
Mahasiswa Kendari, Sulawesi Tenggara, berunjuk rasa di depan kantor DPRD memprotes RKUHP dan perundangan kontroversial lainnya, Kamis (26/9). Dalam aksi itu, dua mahasiswa meninggal. (ANTARA FOTO/Jojon) |
Koordinator Aliansi Sumsel Melawan Radian Ramadani mengatakan aksi menyalakan lilin merupakan bentuk ungkapan duka sekaligus sinyal darurat atas kondisi Indonesia saat ini. Kekerasan yang terjadi saat unjuk rasa di berbagai daerah banyak terjadi bahkan jatuh korban jiwa.
"Kami sangat menyesali kekerasan terhadap mahasiswa banyak terjadi di daerah lain. Polisi bilang mereka punya anak dan istri yang menunggu di rumah. Kami juga ada keluarga yang menunggu. Kita sama-sama manusia, punya keluarga," ujar dia.
"Ke depan kami berharap tidak ada lagi korban. Karena hal itu tentu mencederai sistem demokrasi yang ada," kata Radian.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palembang Eko Hendiyono mengatakan 13 kader mereka mengalami kekerasan dalam aksi 24 September.
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian |
HMI cabang Palembang pun telah membuat laporan di Polda Sumsel untuk mengusut siapa pelaku penganiayaan terhadap kader mereka.
Sebelumnya, Dua mahasiswa Universitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara, Himawan Randi dan Yusuf Kardawi, meninggal dunia saat ikut dalam unjuk rasa di depan Kantor DPRD Sulawesi Tenggara pada Kamis lalu (26/9).
(idz/arh)
Mahasiswa Kendari, Sulawesi Tenggara, berunjuk rasa di depan kantor DPRD memprotes RKUHP dan perundangan kontroversial lainnya, Kamis (26/9). Dalam aksi itu, dua mahasiswa meninggal. (
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian