Maspupah (50), ibunda Yadi, menceritakan bahwa anaknya sempat memijatnya seraya terus meminta maaf dan mencium tangan sebelum ikut demo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Polisi ngajak makan dulu. 'Enggak ah, makasih udah kenyang'. Polisi bilang Maulana udah enggak ada, sabar ya. Saya kaget, nangis. Orang dia masih keadaan sehat [sebelum berangkat demo]," ujar Maspupah.
Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran 25 September. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar) |
"Abis itu saya dipanggil sama polisi ke kamar, ngasih amplop buat ngurus biaya jenazah Yadi, Rp10 juta. Saya enggak banyak omong, takut," tuturnya.
Saat itu, Maspupah melihat jasad Yadi mengeluarkan darah dari telinga. Saat menanyakan hal itu ke pihak RS, petugas mengklaim itu disebabkan karena penyakit asma.
Wanita yang bekerja menjaga lahan parkir itu mengakui putranya memang mengidap asma karena turunan dari mendiang sang ayah. Yadi, kata dia, terkadang merasakan sesak nafas saat asmanya kambuh.
Bukan Demo
Maspupah menyebut, berdasarkan keterangan teman Yadi bernama Aldo yang juga ikut ditahan saat demo, mereka berdua tidak sedang berdemo.
"Dia (Aldo) cerita bukan demo, cuma lihat," cetusnya.
Rangkaian demo pada akhir September diinisiasi oleh mahasiswa yang menolak perundangan kontroversia di DPRl, seperti RKUHP dan revisi UU KPK. Pelajar kemudian ikut serta. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
"Temannya baru keluar tuh si Aldo, di dalam penjara katanya. Tangkapnya berdua sama Yadi. Saya tanya sama Aldo bagaimana kejadiannya," ujar Maspupah.
Berdasarkan penjelasan Aldo, Maspupah menuturkan saat itu Aldo dan Yadi berdemo di Flyover Slipi ditangkap polisi dan dimasukkan ke dalam mobil.
Ibu korban menyatakan tidak terima jika Yadi memang benar dipukuli hingga meninggal dunia karena dituduh ikut demo yang berujung ricuh.
"Dunia akhirat saya tidak terima. Tapi kalau anak saya meninggal karena dari Allah, saya ikhlas," cetus Maspupah.
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian |
Tito menegaskan pedemo yang tewas itu bukan dari kalangan pelajar dan mahasiswa namun kelompok perusuh.
Kapolri juga membantah penyebab kematian korban bukan karena tindakan represif dari aparat yang menangani aksi massa rusuh.
Tim Forensik Rumah Sakit Polri Kramat Jati mengklaim tidak ada tanda kekerasan pada jasad Maulana Suryadi.
"Saat saya terima di kamar mayat, tanda kekerasan aja tidak ada. Badannya bersih, kepala dan badan bersih. Tidak ada jejak kekerasan seperti darah," kata Kepala Instalasi Forensik Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Kombes Pol Edi Purnomo di Jakarta, Kamis (3/10) dikutip dari Antara.
"Kalau orang meninggal memang seperti itu, keluar darah karena pecahnya pembuluh darah, karena faktor pembekuan. Makanya, jenazah yang dikafani, ditutup lubang-lubangnya dengan kapas," imbuh dia.
Menurutnya, satu-satunya petunjuk saat proses otopsi di tubuh korban adalah pembengkakan pembuluh darah di bagian leher.
[Gambas:Video CNN]
"Tapi memang ada pembesaran pembuluh darah di leher. Itu biasanya terjadi pada orang yang mengalami sesak nafas," katanya.
Petunjuk terkait penyebab tewasnya Maulana akibat sesak nafas juga diperkuat dengan pengakuan pihak keluarga bahwa korban memiliki riwayat sesak nafas.
Penyakit bawaan itu, kata dia, juga dialami sang kakak serta ayahnya yang sudah lebih dulu meninggal akibat sesak nafas.
"Saat kita tanya apakah akibat TBC atau asma, keluarga tidak komentar," aku Edi.
(arh)
Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran 25 September. (
Rangkaian demo pada akhir September diinisiasi oleh mahasiswa yang menolak perundangan kontroversia di DPRl, seperti RKUHP dan revisi UU KPK. Pelajar kemudian ikut serta. (
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian