"Kami juga mengimbau kepada pihak-pihak yang ingin menggagalkan pelantikan harus siap menghadapi perlawanan dan kemarahan rakyat," kata Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, dalam keterangan tertulis, Selasa (8/10).
Melanjutkan pernyataannya, Budi menulis, "Menggagalkan pelantikan pemimpin yang lahir dari proses demokrasi sama saja merampas suara rakyat dan menghancurkan demokrasi itu sendiri."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Budi menyambut baik usul Ketua MPR, Bambang Soesatyo (Bamsoet), yang menyarankan pelantikan Jokowi-Ma'ruf digeser dari pagi menjadi sore hari pada 20 Oktober mendatang.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Bamsoet menyatakan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih adalah momen sakral kenegaraan. Karena itu, dia mengimbau semua pihak termasuk mahasiswa tak menggelar demonstrasi saat hari pelantikan Jokowi-Ma'ruf.
"Masih banyak waktu yang bisa diberikan untuk berunjuk rasa. Gedung parlemen terbuka bagi siapa saja untuk menyampaikan aspirasinya, tapi jangan di hari yang sakral itu karena melantik pemimpin kita lima tahun ke depan," kata Bamsoet.
Bamsoet pun meminta doa masyarakat agar prosesi pelantikan yang digelar di Gedung MPR/DPR itu bisa berjalan dengan lancar. (fra/has)