Permintaan tersebut mereka lakukan dengan menggelar konferensi pers di YLBHI, Jakarta Pusat, Minggu (13/10).
Peristiwa pertama adalah ancaman pembunuhan kepada Wiranto pada bulan Mei lalu. Dasar kedua adalah peristiwa penusukan yang menimpa Wiranto saat berkunjung ke Pandeglang, Banten.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini terbukti dari banyaknya jumlah korban jiwa (dari peristiwa kericuhan belakangan Ini), bahkan ada kawan kami yang tertembak, itu bukti kegagalan Wiranto," ucapnya.
Mereka mendesak supaya kepolisian mau membuka data korban demonstrasi dengan kekerasan, penangkapan dan yang hilang. Serta memberikan mereka ruang advokasi.
Borak terdiri dari berbagai kampus yaitu Universitas Al Azhar, Universitas Budi Luhur, Universitas Moestopo, Institut Sains dan Teknologi Nasional, Indonesia Banking School, Kalbis Institute, Aliansi Tanpa Nama Kampus, Aliansi Mahasiswa Indonesia Menggugat, Front Aksi Mahasiswa Semanggi, Front Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia, Front Aksi Mahasiswa Universitas Pasundan, Front Aksi Mahasiswa Universitas Mpu Tantular, Konsolidasi Mahasiswa Universitas Padjajaran.
Wiranto lantas dilarikan ke RSUD Berkah, Pandeglang sebelum dibawa ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Di Jakarta, Wiranto menjalani operasi selama tiga jam, hingga kemudian dipastikan kondisinya berangsur pulih pada Jumat siang.
Polisi menangkap dua orang yang diduga menyerang Wiranto. Penyerang merupakan pasangan suami istri. Polisi menyebut keduanya terpapar ISIS. Sementara itu BIN mengidentifikasi pelaku merupakan anggota JAD jaringan Bekasi.
[Gambas:Video CNN] (gst/agr)