Temui Ketum Parpol, Prabowo Diklaim Pasif soal Jatah Menteri

CNN Indonesia | Senin, 14/10/2019 13:29 WIB
Temui Ketum Parpol, Prabowo Diklaim Pasif soal Jatah Menteri Dahnil Anzar Simanjutuk menegaskan bahwa Prabowo Subianto mendatangi pimpinan parpol pengusung Jokowi-Ma'ruf bukan demi memperoleh kursi menteri (CNN Indonesia/ Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru bicara Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak membantah jika kunjungan Prabowo menemui pimpinan parpol pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin ditafsirkan sebagai langkah untuk mendapatkan kursi menteri di kabinet selanjutnya.

Dia mengklaim Prabowo justru pasif dan tak pernah melobi Jokowi maupun ke ketum parpol koalisi Jokowi-Ma'ruf lainnya agar diberikan menteri.

"Gerindra sampai sekarang ini tidak aktif melobi ya. Harus dipahami Gerindra dalam posisi siap duduk sebagai oposisi atau dalam pemerintah. Jadi, kami tidak pernah minta satu menteri, dua menteri, tiga menteri, sama sekali tidak," kata Dahnil di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (14/10).


"Jadi, Pak Prabowo posisinya sangat pasif. Bahkan rekonsiliasi diundang Pak Jokowi dan Ibu Mega," tambahnya.

Dahnil menjelaskan bahwa Prabowo dan Gerindra sendiri memiliki konsep 'Strategi Dorongan Besar' untuk mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf selama lima tahun ke depan. Menurutnya, konsep itu sudah ditawarkan Gerindra kepada Jokowi-Ma'ruf.

Diketahui, konsep Strategi Dorongan Besar merupakan tawaran konsep Gerindra kepada Jokowi yang berisi tentang konsep swasembada pangan, air dan energi.
Dahnil mengatakan tak ada masalah bagi Gerindra jika konsep itu dijalankan Jokowi tanpa ada timbal balik berupa pemberian kursi menteri.

"Kalau misal Big Push itu mau digunakan silakan meski tanpa kursi atau kalau misal Big Push diserahkan tanggung jawabnya kepada Gerindra atau Pak Prabowo. Itu kami terbuka tidak ada masalah sama sekali," kata dia.

Selain itu, Dahnil menegaskan sampai saat ini belum ada keputusan final terkait sikap politik Gerindra selanjutnya. Dia mengatakan Gerindra masih belum pasti menjadi bagian dari koalisi pemerintah atau di luar pemerintah.

Prabowo, kata Dahnil, baru akan mendengar masukan dan saran dari seluruh kader Gerindra dalam forum Rakernas yang akan digelar pada 15-17 Oktober di Hambalang, Bogor.

"Belum. Besok tanggal 16 beliau akan mendengarkan masukan dari berbagai pihak. Tentu nanti sikap finalnya juga terkait sikap presiden, apakah membutuhkan Gerindra dan pak Prabowo atau tidak," ujarnya.

Dahnil turut mengamini bahwa sikap politik Gerindra sebagai bekas kompetitor Jokowi-Ma'rut tak mudah untuk masuk ke kabinet. Ia pun mengatakan banyak pendukung Prabowo yang sampai saat ini belum memahami langkah politik yang nantinya akan diambil Prabowo.
"Secara politik Pak Prabowo memahami bahwa sebagian pendukung tidak paham langkah politik Pak Prabowo. Tentu PR kami adalah menjelaskan langkah politik Pak Prabowo. Yang jelas pijakannya adalah demi kepentingan bangsa," kata dia.

Prabowo bertemu dengan Jokowi di Istana Negara pada Jumat lalu (11/10). Keduanya mengaku berbicara soal kans Gerindra bergabung dalam koalisi pemerintahan.

Namun, mereka mengklaim belum ada kesepakatan. Jokowi dan Prabowo juga menegaskan bahwa hubungannya baik-baik saja dan selalu mesra meski pernah bertarung pada Pilpres 2019.

Prabowo lalu menemui Ketua Umum NasDem Surya Paloh pada Minggu malam (13/10). Prabowo datang ke kediaman Paloh di bilangan Permata Hijau, Jakarta bersama Waketum Edhy Prabowo, Sufmi Dasco Ahmad serta Sekjen Ahmad Muzani.

Ada beberapa hal yang mereka sepakati. Salah satunya soal amendemen UUD 1945 yang sebaiknya dilakukan secara menyeluruh. Bukan sekadar menghidupkan kembali GBHN.

[Gambas:Video CNN] (rzr/bmw)