Densus Tangkap 2 Terduga Teroris Hendak Beraksi di Bandung

ctr, CNN Indonesia | Selasa, 15/10/2019 17:41 WIB
Densus Tangkap 2 Terduga Teroris Hendak Beraksi di Bandung Aparat kepolisian melakukan simulasi antisipasi teror. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri kembali menangkap dua orang yang diduga teroris di Bandung. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menyebutkan inisial mereka, yaitu DP dan MNA.

Dedi menjelaskan dua terduga teroris di Bandung ini berencana melakukan aksi dengan senjata tajam, bukan menggunakan bom.


"Yang di Bandung dan Cirebon memang terorganisir. Tapi yang di Bandung menggunakan senjata tajam dan senapan angin," kata Dedi di Mabes Polri, Selasa (15/10).


Sebelum DP dan MNA, polisi juga telah menangkap WBN dan AA yang juga akan melakukan aksi di Bandung. Dari lokasi penangkapan WBN dan AA, polisi menyita sejumlah barang seperti senapan angin, pistol yang diduga airsoft dan sangkur.

"Ditemukan juga beberapa botol yang sedang didalami isi kandungannya. Beberapa bahan kimia masih didalami," ujar dia.

Kemudian di lokasi tempat DP dan MNA ditangkap, polisi menyita airsoft gun call defender, kaos, pisau lipat, cairan putih dan beberapa pucuk airsoft gun. Sama dengan JAD di Cirebon, DP dan MNA rencananya akan menyasar kantor polisi di Bandung.


"JAD Bandung sasarannya anggota kepolisian dan Mako Bandung serta tempat ibadah," kata Dedi.

Dedi mengatakan ditinjau dari persiapannya, di Cirebon dan Jogja lebih struktural dan biasanya menggunakan bom. Mereka juga dipersilakan melakukan amaliyah di manapun dengan sasaran utama thogut.

"Kalau di Cirebon terstruktur dengan pengantin, di Jogja juga, di Sulteng juga terkait MIT terstruktur mempersiapkan bom," katanya.

Jaringan teroris yang ditangkap polisi sejak insiden penusukan Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang pada 10 Oktober 2019 kini menjadi 27 orang. Mereka di antaranya ditangkap di Lampung, Jakarta, Bekasi, Jambi, Jateng, Sulteng, Sulut dan Bali.

Dedi mengatakan aksi keduanya tidak ada hubungan dengan pelantikan presiden pada 20 Oktober mendatang. Polisi sudah memitigasi kemungkinan pergerakan yang akan terjadi.

"Tidak ada keterkaitan dengan penggagalan proses pelantikan presiden. Mereka belum ditemukan jejak upaya amaliyah di pelantikan presiden," ujarnya.


[Gambas:Video CNN] (pmg)