Fadjroel Usai Bertemu Jokowi: Saya Bersedia Menerima Apapun

CNN Indonesia | Senin, 21/10/2019 15:57 WIB
Fadjroel Usai Bertemu Jokowi: Saya Bersedia Menerima Apapun Mantan aktivis Fadjroel Rahman jadi salah satu tokoh yang dipanggil Presiden Jokowi di Istana Negara, Senin (21/10). (CNN Indonesia/Aghnia Adzkia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisaris Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk., Fadjroel Rahman dipanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi), ke Istana Merdeka, Jakarta. Fadjroel mengaku mendapatkan tugas dari Jokowi saat bertemu sembari makan siang bersama.

"Tetapi mengenai bentuk tugasnya nanti akan diumumkan secara langsung saja, diberitahukan saja oleh presiden," kata Fadjroel di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (21/10).

Fadjroel datang bersama dengan mantan Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan mantan Staf Khusus Presiden Nico Hardjanto. Namun, kata Fadjroel, mereka bertiga bertemu secara terpisah dengan Jokowi.
Mantan aktivis itu enggan membocorkan tugas yang akan diberikan oleh Jokowi. Ia tak menjawab tentang tugas yang diberikan sebagai menteri atau juru bicara presiden.


"Saya mengatakan kepada Pak Jakowi bahwa saya bersedia menerima apapun yang diperintahkan kepada saya untuk membantu beliau dan untuk negara ini," ujarnya.

Saat disinggung apakah dirinya akan mundur sebagai komisaris utama PT Adhi Karya setelah mendapat tugas dari Jokowi, Fadjroel belum bisa memastikan.

Fadjroel mengaku ingin melihat tugasnya terlebih dahulu apakah harus mundur atau tidak dari perusahaan plat merah itu.

"Nanti akan dibicarakan lebih jauh mengenai soal tugas yang akan diberikan, jadi belum ada pembicaraan sampai sejauh itu," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Fadjroel merupakan satu nama yang dipanggil Jokowi ke Istana Merdeka, Jakarta, hari ini. Selain Fadjroel, sejumlah nama yang dipanggil antara lain Mantan Ketua MK Mahfud MD, CEO Gojek Nadiem Makarim, Pendiri media NET Mediatama Televisi, Wishnutama.

Kemudian mantan Menteri Perindustrian Airlangga Hartato, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, mantan Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan mantan Staf Khusus Presiden Nico Hardjanto.
(fra/ugo)