"Dia (Jokowi) coba buat pemekaran wilayah di Papua yang justru akan membangun situasi yang lebih parah di Papua. Rakyat tidak membutuhkan itu," ujar Sam dalam diskusi di Kafe Bakoel Koffie, Jakarta, Rabu (30/10).
Sam menuturkan rakyat Papua hanya membutuhkan ruang kebebasan dalam menjalan demokrasi. Selain itu, rakyat Papua juga menginginkan penyelesaian seluruh kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi di Papua.
Pemekaran wilayah Papua, Sam menilai sebagai bukti kegagalan Jokowi dalam mengambil kebijakan yang tepat untuk Papua. Ia berkata kebijakan itu sejatinya akan menambah persoalan dan memperumit penyelesaiannya.
"Jokowi dan pemerintahan dia yang baru diangkat itu tidak sense, dia tidak mengerti betul-betul akar persoalan Papua yang seharusnya," ujarnya.
Lebih lanjut, Sam mengatakan ada empat akar permasalahan di Papua berdasarkan hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang seharusnya diselesaikan oleh Jokowi.
Empat akar masalah itu yakni stigmatisasi dan diskriminasi, pelanggaran hak asasi manusia, kegagalan pembangunan, dan status serta sejarah politik Papua.
"Kalau mereka menyelesaikan empat persoalan itu pasti situasi Papua akan damai akan aman," ujar Sam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Sam meminta pendekatan hukum dan kultural dikedepankan di Papua. Sebab, ia melihat pendekatan pembangunan sama sekali tidak efektif di Papua selama periode pertama pemerintahan Jokowi.
"Jangan terbalik," ujarnya.
Ia menambahkan pemekaran memang pernah disampaikan oleh sejumlah tokoh Papua beberapa tahun silam. Akan tetapi, kebijakan itu perlu dikaji secara mendalam. Ia tidak ingin pemekaran dilakukan tanpa melakukan kajian dan melibatkan masyarakat Papua.
"Tidak dibahas di Jakarta lalu tiba-tiba dicaplok ini Papua Selatan. Ini betul-betul kepentingan pemerintah pusat yang kami yakin tidak melibatkan daerah," ujar Sam.
"Ini prestasi kekejaman yang luar biasa yang dilakukan negara di Papua," ujarnya.
Tito mengatakan dirinya sudah bertemu Bupati Merauke Frederikus Gebze saat berkunjung ke Papua untuk membahas mengenai pemekaran baru untuk Papua Selatan.