Mulanya anggaran tersebut diusulkan Bappeda DKI sebesar Rp26 miliar, namun dilakukan revisi menjadi Rp19 miliar.
"Kan efisiensi, lebih baik seluruh alokasi anggaran untuk TGUPP dinolkan. Kenapa? Karena setiap rupiah yang kita keluarkan, harus mendapatkan output untuk pembangunan DKI Jakarta ini," kata Gembong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politikus PDIP Gembong Warsono menilai TGUPP lebih bvaik dibubarkan karena tak jelas kinerjanya. (Detikcom/Ari Saputra) |
Menurutnya, setiap dana yang menggunakan dana APBD harus transparan mulai dari rekrutmen hingga kinerja yang dapat dilaporkan ke DPRD DKI. Namun, kinerja TGUPP yang sekarang dan sistem perekrutannya sangat tertutup.
"Tapi yang terjadi sekarang kan, hanya menempatkan tim-tim sukses kemarin, rata-rata adalah tim sukses semua. Bohonglah kalau tidak seperti itu," lanjut dia.
Secara umum Gembong tak mempermasalahkan keberadaan TGUPP. Ia hanya meminta agar anggaran tersebut keluar dari saku gubernur sendiri.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
Senada, Ketua Fraksi PAN Lukmanul Hakim mengkritik kinerja TGUPP yang dirasa tidak memberikan manfaat langsung kepada rakyat. Lukmanul mengaku sampai sekarang tidak tahu sosok maupun kinerja dari para anggota TGUPP.
"Terus mana sih orang-orang TGUPP, jumlahnya berapa, gajinya berapa, dan apa yang sudah mereka capai untuk memberi manfaat kepada rakyat DKI?" ujar dia.
"Dan juga saya melihat ini sempat ke mana-mana TGUPP ini. Kalau DPRD datang ke dinas itu lebih takut sama TGUPP daripada DPRD padahal kami dipilih oleh rakyat dan disumpah, mengikat sumpah kami untuk pengawasan budgeting dan regulasinya," ujar dia.
Anggota DPRD DKI dari Fraksi Partai Gerindra Purwanto menilai keberadaan TGUPP memperlambat kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Menurutnya, kebanyakan SKPD harus menunggu arahan TGUPP untuk menindaklanjuti suatu masalah.
[Gambas:Video CNN]
"Mereka minta izin arahan. Justru memperlambat akselerasi kerja gubernur, itu yang mungkin tadi dimaksud oleh temen-temen fraksi PAN dan saya sendiri Gerindra," ungkap dia.
Meskipun partainya adalah pendukung Anies, Purwanto mengaku tetap mengkritisi Anies dan menyebut perlu ada aturan yang jelas mengenai TGUPP.
"Kita tetap kritisi, bukan berarti kita partai pendukung tak kritisi. Artinya bida jadi masukan kepada tim bapak, bahawa tim TGUPP perlu di buka tupoksinya, supaya kita paham betul siapa yang kolaborasi dengan bidang ini," tutup dia.
"Termasuk juga kalau ditanyakan bagaimana kinerjanya secara keseluruhan seluruh anggota TGUPP, kerjanya bertanggung jawab kepada gubernur," kilahnya.
Sejauh ini ada sekitar 66 anggota TGUPP yang dimiliki oleh Anies. Aturan TGUPP sudah keluar sejak zaman Presiden Joko Widodo melalui Pergub 83 tahun 2013 dan Pergub nomor 163 tahun 2015.
Bedanya, di zaman Jokowi TGUPP adalah biasanya ditempati oleh PNS yang non-job. Begitu pula dengan era Basuki Tjahaja Purnama masih mengisin posisi TGUPP dengan PNS yang terbentur karir. Sementara para tim khusus bawaan gubernur biasanya didanai sendiri memakai biaya operasional gubernur.
(ctr/arh)
Politikus PDIP Gembong Warsono menilai TGUPP lebih bvaik dibubarkan karena tak jelas kinerjanya. (
Foto: CNN Indonesia/Fajrian