Diketahui, mahasiswa Fakultas Hukum UMI Makassar, Andi, tewas dalam penyerangan dengan senjata tajam oleh orang tak dikenal di dalam kampus, Selasa (12/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, ada 12 orang mahasiswa yang diambil keterangannya dalam kasus ini. Pengembangan penyelidikan kemudian mengerucut kepada tiga nama mahasiswa ini.
Sejumlah barang bukti yang disita polisi, termasuk ponsel yang berisi percakapan soal perencanaan penyerangan. (CNN Indonesia/ Sari) |
"Dari ponsel inilah dilakukan tracking dan di situ tergambar ada perintah untuk lakukan penyerangan. Oleh karenanya saat ini tengah dikejar lagi senjumlah mahasiswa," ujarnya.
Di tempat yang sama, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar AKBP Indratmoko mengatakan pihaknya masih mengejar delapan orang lainnya.
Isu Kedaerahan
Soal motif penyerangan, Adnas mengatakan itu dilatarbelakangi oleh kejadian-kejadian yang lalu. Namun, dia enggan merincinya.
"Kita serius menangani kasus ini karena begitu sangat memprihatinkan yang mana seolah-olah mahasiswa UMI itu terkotak-kotak karena isu kedaerahan," ucap dia.
[Gambas:Video CNN]
Agar kasus ini tidak berulang, pihaknya telah berkoordinasi dengan Rektor UMI dan unsur pimpinan "untuk segera mengambil langkah kongkret, duduk bersama dengan mengundang Bupati Kabupaten Bone dan bupati-bupati dari daerah Luwu Raya."
Sebelumnya, Andi Fredi Akirmas dan kawan-kawan tengah mengopi di sebuah kafe samping fakultasnya bersama rekan-rekannya dari Lamellong, organisasi mahasiswa asal Kabupaten Bone.
Tiba-tiba puluhan orang dengan penutup wajah mendekat dan menyerang. Saat yang lain berhamburan, Andi, yang berasal dari asal Kabupaten Bone, Sulsel, tak mampu menyelamatkan diri.
(svh/arh)
Sejumlah barang bukti yang disita polisi, termasuk ponsel yang berisi percakapan soal perencanaan penyerangan. (