Agus Rahardjo Minta Penyidik Tak Pakai Kopiah di Penangkapan

CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 14:49 WIB
Agus Rahardjo Minta Penyidik Tak Pakai Kopiah di Penangkapan Ketua KPK Agus Rahardjo ingin para penyidik tetap imparsial dalam bertugas. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo meminta anak buahnya untuk menjaga independensi dan tidak memihak alias imparsial. Ia juga menyinggung soal pemakaian 'kopiah haji' yang hendaknya tak digunakan saat penangkapan.

"Jadi, kita sebagai penegak hukum harus memikirkan imparsial. Bayangkan kalau kita menangkap orang dengan menggunakan kopiah haji, yang ditangkap dari agama lain gimana? Itu enggak boleh. Iya, kan? Jadi, kita harus menjaga independensi kita, imparsial kita," kata Agus di Gedung Penunjang KPK, Jakarta, Rabu (20/11).

Dalam acara 'Silaturahmi Kebangsaan dan Doa Bersama untuk Negeri' yang dihadiri seluruh Pimpinan KPK ini, Agus berbicara soal nasionalisme. Menurut dia, merawat Indonesia merupakan pekerjaan yang sangat berat. Oleh karena itu, ia meminta jajarannya untuk bersama-sama merawat Indonesia.


"KPK berdiri untuk memperkuat eksistensi Indonesia. Itu harus ditanamkan di benak kita masing-masing," katanya.

Ia pun menuturkan kisah Yugoslavia yang pecah menjadi beberapa negara lantaran menguatnya sentimen suku dan agama dan menelan korban jiwa yang tak sedikit.

[Gambas:Video CNN]
"Akibatnya, saat ini setidaknya terdapat tujuh negara yang berdiri dari pecahan Yugoslavia," kata Agus.

Atas dasar itulah Agus meminta pegawai KPK memperkuat rasa nasionalisme dengan memegang teguh Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang telah digariskan para pendiri bangsa.

"Kita hari ini sebetulnya menikmati founding father kita yang sudah sepakat menggariskan Pancasila; menggariskan Bhinneka tunggal Ika," ucapnya.


Menurut dia, dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, bangsa Indonesia masih berdiri dengan kokoh meski terdiri dari perbedaan suku, agama dan bahasa.

"Tujuan kita memang ingin mempertebal rasa kebangsaan kita," ujarnya lagi.

Sebelumnya, KPK digoyang isu radikalisme. Indonesia Police Watch (IPW) menyebut ada pembagian kubu di komisi antirasuah, yakni kubu polisi Taliban dan polisi India.

Tudingan polisi Taliban sendiri merujuk pada kelompok penyidik yang agamis atau radikal di KPK.

(ryn)