Dinkes Sumut Selidiki Kaitan Kelainan Bayi dan Tambang Ilegal

CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 09:29 WIB
Dinkes Sumut Selidiki Kaitan Kelainan Bayi dan Tambang Ilegal Cairan merkuri yang kerap digunakan di tambang ilegal. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Provinsi Sumatera Utara membentuk tim untuk menyelidiki kelainan pada bayi di di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut, dan kemungkinan kaitannya dengan paparan bahan kimia berbahaya dari pertambangan ilegal di daerah itu.

"Benar, Pak Gubernur Edy [Rahmayadi] sudah membentuk tim untuk meneliti apakah ada kaitan limbah tambang ilegal dengan cacat pada bayi-bayi tersebut," kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut Alwi Mujahit Hasibuan, Rabu (20/11).

"Kalau kita soal penyakitnya, apa ada hubungannya dengan itu (limbah)," ia menambahkan.


Dalam dua tahun terakhir, ada enam bayi lahir di Madina mengalami kelainan berupa usus di luar perut, otak di luar tempurung kepala, tengkorak kepala tidak lengkap, mata satu, serta tidak mempunyai tulang rusuk dan kulit pembalut perut.

Yang terbaru adalah bayi yang lahir dengan otak di luar tempurung kepalanya. Namun, kata Alwi, bayi ini sudah meninggal pada Senin (18/11).

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi membentuk timterkait tambang ilegal di Madina.Gubernur Sumut Edy Rahmayadi membentuk tim terkait tambang ilegal di Madina. (Dok. Istimewa)
"Jadi hingga saat ini sudah ada enam bayi yang lahir tidak normal," ungkapnya.

Alwi menyebutkan pada awal November ditemukan kasus kematian bayi baru lahir dengan kondisi usus di luar perut. Kemudian Dinkes Sumut bersama Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) melakukan pemeriksaan kadar merkuri terhadap air baku di Madina. Namun, hingga kini hasilnya belum didapatkan.

"Kita akan berkoordinasi kembali dengan BBTKL di Medan untuk melihat kaitan antara cemaran limbah mengandung merkuri dengan kasus bayi lahir cacat itu. Sebab merkuri ini mengganggu kesehatan tidak saja terhadap ibu hamil, tapi juga dapat menjadi pemicu kanker. Makanya alat-alat kesehatan sekarang [sudah] tidak pakai merkuri lagi," urainya.

Seperti diketahui, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi membentuk tim untuk menutup aktivitas pertambangan ilegal di Madina yang diduga menjadi penyebab cacatnya beberapa bayi baru lahir.

Pembentukan tim ini sendiri menindaklanjuti surat dari Bupati Madina, Dahlan Nasution, tertanggal 15 November 2019. Dahlan melaporkan ada lima orang bayi di daerahnya yang lahir dalam kondisi cacat dalam dua tahun terakhir ini.

Menurut Dahlan, para dokter menduga bayi cacat itu merupakan dampak dari maraknya pertambangan liar di kabupaten tersebut yang menggunakan mercury dalam aktivitas pertambangannya. Untuk itu, ia meminta semua pihak agar bertindak menutup aktivitas pertambangan liar tersebut.

[Gambas:Video CNN]
Bahkan berdasarkan pengakuan beberapa ibu dari bayi cacat itu, saat hamil mereka aktif bekerja di mesin pengolahan menggunakan zat kimia sebagai tukang pencet (memisahkan batu halus) tanpa menggunakan sarung tangan.

Pemakaian zat kimia dalam pertambangan ilegal berdampak buruk bagi kesehatan karena mencemari lingkungan air permukaan, air bawah tanah, maupun pertanian/perkebunan rakyat. Kemudian mesin pengolahan sebanyak 700 hingga 1.000 unit kerap dioperasikan bersebelahan dengan rumah-rumah ibadah, sekolah, rumah warga maupun di seputaran lahan pertanian/perkebunan.


(fnr/arh)