Nadiem memulai naskah pidatonya dengan meminta maaf karena pesan yang ia sampaikan berbeda dengan yang disampaikan mendikbud-mendikbud sebelumnya.
"Biasanya tradisi Hari Guru dipenuhi kata-kata inspiratif dan retorik. Mohon maaf, tetapi hari ini pidato saya akan sedikit berbeda," ujar Nadiem seperti dikutip dari 'Pidato Mendikbud pada Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional 2019' di situs Kemdikbud, Sabtu (23/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nadiem mengatakan, guru memiliki tugas termulia namun juga tersulit. Menurutnya, guru ditugasi membentuk masa depan bangsa tapi lebih sering diberi aturan dibandingkan pertolongan.
"Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Nadiem juga menyoroti sikap guru yang ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.
"Anda frustrasi karena Anda tahu di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal," ucap Nadiem.
Nadiem juga menyatakan bahwa guru sebenarnya memahami setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, namun keseragaman mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.
Ia juga menyinggung keinginan guru agar muridnya terinspirasi namun para guru justru tak diberi kepercayaan untuk berinovasi.
Namun Nadiem menegaskan bahwa perubahan tak dapat dimulai dari atas karena semua berawal dari guru dan berakhir dari guru. "Jangan menunggu perintah, ambilah langkah pertama," katanya.
Nadiem pun meminta para guru mulai melakukan perubahan kecil di kelas. Terdapat lima poin yang dijabarkan Nadiem, yakni mengajak kelas berdiskusi bukan hanya mendengar, kemudian beri kesempatan pada murid untuk mengajar di kelas, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri, dan tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.
"Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukan secara serentak, kapal besar bernama Indonesia pasti akan bergerak. Selamat hari guru," ucapnya. (pris/stu)