Jubir: Ma'ruf Generasi Kolonial, Pilih Stafsus Juga Kolonial

CNN Indonesia | Senin, 25/11/2019 17:07 WIB
Jubir: Ma'ruf Generasi Kolonial, Pilih Stafsus Juga Kolonial Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidowi. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidowi mengungkapkan alasan Wakil Presiden Ma'ruf Amin tak memilih staf khusus dari kalangan anak muda atau generasi milenial.

Masduki menyebut stafsus dari generasi milenial sudah dimiliki Presiden Joko Widodo (Jokowi). Selain itu, Masduki yang juga juru bicara Wapres ini menyebut Ma'ruf yang merupakan generasi kolonial akhirnya memilih stafsus dari generasi yang sama pula.

"Apakah dari milenial atau kolonial saya kira sama. Rupa-rupanya karena kiai ini dari generasi kolonial, ya banyak yang kolonial lah (stafsus). Tapi itu tidak mengurangi terhadap kompetensi dan keahlian masing-masing," kata Masduki di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin (25/11).


Selain tak ada generasi milenial, stafsus wapres juga banyak berasal dari organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, seperti PBNU dan MUI. Masduki menyatakan latar belakang ormas Islam menjadi salah satu pertimbangan Ma'ruf memilih stafsus.

"Kalau semata-mata dia mempunyai latar belakang ormas Islam saja saya kira tidak akan diterima oleh Wapres. Tapi yang harus dihitung, yang lain. Keprofesionalannya itu dihitung dari latar belakang yang lain," ujarnya.

Masduki mengakui terdapat beberapa stafsus yang berasal dari PBNU dan MUI. Selain itu, kata Masduki, ada juga stafsus yang berasal dari kalangan akademis. Menurutnya, alasan lain pengangkatan stafsus dari PBNU maupun MUI karena masalah kenyamanan Ma'ruf.

"Saya kira karena ini semacam wilayah kewenangan wakil presiden, tentu saja ini adalah bagaimana wakil presiden nyaman dengan orang-orang yang bersangkutan," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Ma'ruf memiliki delapan stafsus, termasuk Masduki sendiri. Sementara tujuh stafsus lainnya antara lain, mantan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir yang diangkat menjadi stafsus wapres bidang reformasi birokrasi.

Kemudian Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia Satya Arinanto, menjadi stafsus wapres bidang hukum. Mantan staf khusus Menteri Pertanian Sukriansyah S Latief, menjadi stafsus wapres bidang infrastruktur dan investasi.

Ketua MUI Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat Lukmanul Hakim, menjadi stafsus wapres bidang ekonomi dan keuangan. Ketua PBNU Muhammad Imam Aziz, menjadi stafsus wapres bidang penanggulangan kemiskinan dan otonomi daerah.

Selain itu, Ketua PBNU Robikin Emhas, menjadi stafsus wapres bidang politik dan hubungan antar lembaga, serta Guru Besar Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Maskyuri Abdillah, menjadi stafsus wapres bidang umum.

Sementara Jokowi sebelumnya memilih tujuh stafsus dari kalangan milenial atau berusia di bawah 40 tahun. Mereka antara lain, Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara (29), CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung (23), CEO Amarta Andi Taufan Garuda Putra (32).

Kemudian Perumus Pergerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi (36), Pemuda asal Papua Gracia Billy Mambrasar (31), Pendiri Thisable Enterprise Angkie Yudistia (32), dan mantan Ketua Umum PMII Aminuddin Ma'ruf (33). (fra/sur)