Fahri Hamzah Sebut Staf Milenial Jokowi Jadi Etalase Digital

CNN Indonesia | Jumat, 22/11/2019 13:04 WIB
Fahri Hamzah Sebut Staf Milenial Jokowi Jadi Etalase Digital Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menyebut tujuh staf khusus Presiden Joko Widodo adalah etalase untuk mendorong perkembangan dunia digital. Namun, para staf khusus dari kalangan milenial itu tidak menjawab masalah sesungguhnya yang dihadapi Indonesia. 

"Digital itu menurut saya bukan persoalan dasar bangsa Indonesia," kata Fahri dalam keterangannya, Jumat (22/11).

Fahri menyebut persoalan dasar bangsa Indonesia saat ini adalah sektor riil. "Apa yang kita produksi sendiri, apa yang kita makan, kita pakai, tanam, apa yang kita gunakan sehari-hari," kata mantan Wakil Ketua DPR RI itu.


Presiden Jokowi pada Kamis (21/11) sore resmi mengenalkan tujuh staf khusus dari kalangan milenial. Para stafsus itu berusia di bawah 40 tahun. Mereka di antaranya Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara (29), CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung (23), CEO Amarta Andi Taufan Garuda Putra (32).

Kemudian Perumus Pergerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi (36), Pemuda asal Papua Gracia Billy Mambrasar (31), Pendiri Thisable Enterprise Angkie Yudistia (32), dan mantan Ketua Umum PMII Aminuddin Ma'rufruf (33).

Dikatakan Fahri bahwa staf khusus adalah pekerjaan yang tidak menoleransi sosok dengan kapasitas tidak memadai. Orang yang menjadi staf khusus harus memberikan segenap keahlian, tenaga,  termasuk talentanya untuk membantu presiden.

Fahri sendiri tak yakin nama-nama staf khusus yang ditunjuk Jokowi kemarin memang dipekerjakan sebagai staf khusus. Fahri menduga Jokowi menggunakan istilah staf khusus karena telah kehabisan istilah lain untuk menamakan orang-orang yang ditunjuknya kemarin.

"Mungkin juga fungsinya dibuat lain, mungkin semacam etalase. Kalau bahasa umumnya, sebenarnya bisa dianggap sebagai duta dari anak-anak muda dan milenial yang oleh presiden dianggap punya keahlian tertentu, prestasi tertentu, untuk dikomunikasikan," kata Fahri.

"Mendorong anak-anak muda Indonesia untuk berkiprah dan berani mengambil tindakan atau keputusan untuk maju ke depan," imbuhnya.

Namun, kembali Fahri mengingatkan dunia digital bukan persoalan utama Indonesia. Kalaupun ada pertumbuhan ekonomi digital, kata Fahri, tidak menjamin sektor produksi akan surplus.

Menurut Fahri pertumbuhan ekonomi digital justru bisa membuat masyarakat Indonesia hanya menjadi konsumen produk asing.

[Gambas:Video CNN]
Industri digital juga bisa menjadi alat penetrasi produk-produk asing yang dia khawatirkan dapat mematikan semangat masyarakat menjadi produsen di rumah sendiri.

"Sehingga pertanian kita mundur, peternakan kita mundur, kelautan kita mundur, perkebunan kita mundur, manufaktur kita mundur. Terjadi deindustrialisasi besar-besaran," kata dia.

Berangkat dari itu, Fahri menyampaikan Jokowi seharusnya juga mengambil anak muda yang berlatar belakang petani atau pengusaha di sektor manufaktur dan industri riil.

"Harus ada anak muda yang didorong karena ia jadi petani, entrepreneur sektor manufaktur atau industri riil sehingga betul-betul. Kalau dia maksud etalase untuk mendorong anak muda, maka etalase lengkap tidak sepihak, tidak pincang, tidak maya," kata Fahri. (mts/wis)