Din: Sayang Sekali Kekuatan 212 Jika Hanya Menjelma Kerumunan

CNN Indonesia | Rabu, 27/11/2019 21:11 WIB
Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin menyayangkan jika reuni 212 hanya menjadi kerumunan tanpa memecahkan problem di masyarakat. Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin menyayangkan jika reuni 212 hanya menjadi kerumunan tanpa memecahkan problem di masyarakat. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin berharap reuni 212 tidak berhenti pada kegiatan berkumpul di Monas, Jakarta Pusat. Dia menyayangkan jika 212 hanya menjadi kerumunan.

Menurutnya, alangkah baiknya bila kesempatan berkumpul dan kekuatan massa itu ditransformasikan menjadi gerakan-gerakan yang konkret demi memecahkan problem kontekstual. Momen 212, kata Din, bisa diubah menjadi pelbagai kegiatan terkait peningkatan kualitas hidup umat.

"Kalau berkumpul dan berkumpul, baik baik saja, kangen-kangenan. Tapi jangan berhenti di situ. Sayang sekali energi dan kekuatan yang ada pada 212 itu hanya kemudian menjelma dalam bentuk kerumunan dan kerumunan saja pada tahun-tahun berikutnya," kata Din saat ditemui di ruangannya di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (27/11).


Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu lantas mencontohkan, bukan sekadar berkumpul, massa 212 bisa melanjutkan dengan menggagas aksi untuk mencerdaskan kehidupan umat, membentuk lembaga pendidikan yang berkualitas atau juga melakukan pemberdayaan ekonomi.


"Saya tidak tahu persis apakah [reuni 212] akan ke arah sana. Ini, kalau boleh saya berpesan," kata dia lagi.

Din menganggap sah-sah saja jika orang-orang yang pernah mengikuti Aksi 212 pada 2016 menggelar reuni kembali. Sebab menurutnya, kebebasan berkumpul dan berserikat setiap warga negara memang dijamin konstitusi.

"Maka tidak ada satu pihak pun yang boleh berpretensi untuk menghalanginya. Tentu, syaratnya [aksi] harus damai. Jangan ada kekerasan. Saya paling anti-kekerasan, oleh siapapun, atas dasar apapun," tutur Din.

Din: Sayang Sekali Kekuatan 212 Jika Hanya Menjelma KerumunanGNPF MUI saat menggelar Aksi Bela Islam III menuntut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ditangkap, Jumat (2/12/2016). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Din mengatakan tidak akan menghadiri gelaran tersebut lantaran merasa tak terlibat dari awal. Kendati begitu ia kembali menegaskan bahwa peserta 212 sebagaimana warga lain, memiliki hak berkumpul yang dijamin oleh undang-undang.


"Maka tidak usah dilarang, dan tidak boleh dilarang. Asalkan tidak menimbulkan anarkisme dan kekerasan," tutur dia.

"Dan itu harus diwaspadai karena boleh jadi ada upaya-upaya yang kemudian membuat kekacauan dan akhirnya mendiskreditkan kemuliaan dari gerakan tersebut," ucap Din.

Persaudaraan Alumni 212 menyatakan bakal menggelar reuni akbar alumni 212 di Monas pada 2 Desember 2019. Ketum PA 212 Slamet Maarif mengklaim acara tersebut telah mengantongi izin dari Gubernur DKI Anies Baswedan.

PA 212 juga mengklaim satu juta orang akan hadir dalam acara tersebut. Selain itu, reuni diadakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan doa bersama untuk keselamatan Rizieq Shihab.

[Gambas:Video CNN] (ika/pmg)