Zulhas membeberkan pengalamannya ketika ikut Pemilu. Bahkan, dia bercerita bahwa ketika menjual isu penista agama, perolehan suaranya malah menurun.
"Belajar dari Pemilu Presiden 2019 yang sudah usai, ternyata publik tidak lagi membutuhkan jargon-jargon, tapi apa yang akan berdampak bagi kehidupan mereka," kata dia, di Padang, seperti dikutip Antara Minggu (8/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Umum PAN tersebut menuturkan pernyataannya itu berdasarkan pengalamannya saat delapan bulan berkampanye dengan menjual isu agama dalam arti positif. Tapi, katanya, publik justru lebih membutuhkan kebijakan yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung.
Di sisi lain, ia juga menilai untuk pertama kali dalam sejarah di Indonesia pada 2019 pelaksanaan pemilu legislatif bersamaan dengan pemilu presiden.
"Ada banyak pelajaran penting dan hebatnya perjuangan yang begitu heroik dengan menjual isu agama, akhirnya capres yang satu sekarang sudah menjadi Menteri Pertahanan, itulah politik yang harus diambil pelajaran karena akhirnya adalah kepentingan," kata dia pula.
[Gambas:Video CNN]
Karena itu, ia menyerukan sudah saatnya semua pihak bersatu memajukan negara ini, namun tentu tidak terlepas sikap kritis dalam mengontrol pemerintahan. Ia menyerukan ICMI untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.
"Sebagai organisasi yang berisi para cendekiawan, ICMI harus mengambil peran lebih strategis dan tidak cukup hanya berteriak-teriak saja karena akan kalah dengan ormas yang begitu banyak," kata dia.
Dia menyampaikan, ICMI bisa mengambil peran strategis dengan membuat konsep Undang-Undang Kekayaan Negara, Sumber Daya Alam, Kehidupan Beragama karena jauh lebih efektif ketimbang berteriak di luar.
Catatan Redaksi: Berita ini mengalami perubahan judul pada Minggu (8/12) pukul 19.13 WIB. (antara/ugo)