"Bagaimana mengatur, atau mengendalikan spekulan-spekulan. Harusnya pemda," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/12).
Moeldoko menyatakan pemda juga harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pembangunan ibu kota baru ini. Ia meminta masyarakat tak perlu khawatir soal pembangunan ibu kota baru tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ngeri sekarang di sini semenjak ditetapkan IKN (Ibu Kota Negara) gila jual tanah, kita dibikin kacau," kata Marice kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (3/12).
Akan tetapi, Marice menolak untuk menjual tanahnya seperti yang dilakukan orang lain.
"Di depan sana sudah ada yang lahan dibeli sama pengusaha Jakarta, kalau kita di sini (di kampung) tidak ada yang mau jual," ujarnya.
Pernah suatu hari Marice didatangi seseorang suruhan pengusaha dari Jakarta. Orang itu ingin membeli 2 hektare tanah milik Marice. Tak tanggung-tanggung, Rp1 miliar per hektare siap dikucurkan.
Marice harus menghadapi orang-orang yang membujuknya agar rela menjual tanah. Mereka mengatakan bahwa cepat atau lambat Marice harus merelakan tanahnya ketika pembangunan ibu kota baru dimulai pada 2020 mendatang.
Marice cemas warga asli kehilangan identitas ketika ibu kota negara mulai pindah ke Penajam Paser Utara. Terlebih, generasi muda juga sudah mulai meninggalkan budaya setempat.
"Kalau bisa janganlah. Habis nanti budaya Paser Balik ini. sedangkan sekarang ini masih kayak begini sama budayanya sendiri, apalagi nanti jika benar-benar jadi ibu kota," ungkap Marice.
(fra/ain)