Helmy mengatakan saat ini sedang tren pendakwah provokatif di Indonesia. Biasanya para pendakwah itu menggunakan media sosial dalam menyampaikan ajarannya.
"Kita lihat di sosial media ada penceramah-penceramah seperti itu. Ini menurut saya korban dari dai-dai yang dalam ceramahnya bukan mengajak pada perdamaian, persatuan, ukhuwah, tapi justru saling memprovokasi," kata Helmy saat ditemui di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (2/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perbedaan adalah rahmat, dan Allah menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, itu tujuannya untuk li ta'arafu, saling mengenal. Dalam konteks normatif, bukan hanya mengenal, tapi dalam konteks lebih jauh bisa membangun kerja sama," tuturnya.
Sebelumnya, dua anggota Banser mengalami intimidasi. Mereka dicegat do tengah jalan dan dipaksa meneriakkan takbir oleh orang yang tidak dikenal.
Akun Twitter @nahdlatululama mengunggah video yang menayangkan intimidasi tersebut. Seorang pria mencegat dan memaksa keduanya untuk mengucap takbir.
"Lo takbir dulu sama gua, ya bareng ya. Takbir! Takbir! Takbir! Allahu akbar! Lu Islam bukan?" kata pria tersebut dalam video yang diunggah Selasa (10/12).
Meski begitu, dua anggota Banser menolak meladeni sang pria dengan alasan untuk menunjukkan identitas Islam cukup dengan mengucap dua kalimat syahadat. Pria yang tidak terima jawaban anggota Banser itu langsung mencaci maki.
[Gambas:Twitter] (dhf/ain)