Seperti diketahui, KIP Kuliah adalah program andalan pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang diusung sejak kampanye Pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arskal menyampaikan aturan itu ditujukan kepada 17 ribu orang penerima KIP kuliah yang tersebar di 750 perguruan tinggi negeri keagamaan, baik negeri maupun swasta, di bawah naungan Kementerian Agama.
Dia beralasan pemerintah tidak ingin mahasiswa penerima KIP Kuliah malah mendukung paham dan gerakan yang akan mengganggu keutuhan NKRI. Negara ingin peserta didik yang mereka biayai mendukung keutuhan bangsa dan negara.
"Kita tidak ingin NKRI yang sudah diproklamasikan di 1945 itu bisa kolaps. Kita ingin ini bisa sampai akhir zaman karena [NKRI] ini kesepakatan leluhur bangsa ini ya, dan itu juga sejalan dengan ajaran agama," ungkapnya.
Arskal berkata Kemenag akan memperketat seleksi penerima KIP Kuliah. Hal itu dilakukan guna mencegah orang yang terpapar radikalisme lolos dan mendapat beasiswa.
Dalam masa kampanye, Jokowi memperkenalkan tiga "kartu sakti" sebagai bentuk bantuan pemerintah. Jokowi-Ma'ruf mengusung Kartu Indonesia Pintar Kuliah, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Prakerja.
Pada Juli lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat mengungkap Jokowi mengalokasikan anggaran senilai Rp12,4 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 untuk KIP Kuliah.
(dhf/arh)