"Menurut saya perlu dibuat Pansus atau Panja," kata Idris kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga ini harus menjadi concern pemegang saham, dalam hal ini Pemerintah," kata dia.
Politikus PPP Arsul Sani menyarankan audit bisnis JIwasraya. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon) |
"Terhadap Direksi yang bertanggung jawab, harus diselesaikan dan dibawa ke ranah hukum," kata dia.
Tak hanya itu, Idris mengatakan pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas perlu melakukan langkah konkret untuk penyehatan kondisi keuangan Jiwasraya. "Ini juga menjadi tanggung jawab Pemerintah," kata dia.
"Pansus adalah salah satu instrumen pengawasan yg dimiliki DPR. Oleh karena itu sepanjang wacana Pansus Jiwasraya ini proporsional dalam rangka mencari akar masalahnya maka PPP tak alergi terhadap wacana pembentukan Pansus ini," kata dia.
Tak hanya itu, Arsul meminta agar semua pihak tak menjadikan kasus Jiwasraya sebagai bahan adu domba antara pemerintahan SBY maupun pemerintahan Jokowi saat ini.
[Gambas:Video CNN]
Melihat hal itu, ia berpendapat perlu audit investigatif terhadap semua proses bisnis dan transaksi 10 tahun terakhir.
"OJK perlu mengambil inisiatif ini dengan melibatkan BPK sbg lembaga yg diberi kewenangan melakukan audit dan perhitungan kerugian negara," kata Arsul.
Sementara, Anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Gerindra Mohamad Hekal mengaku pihaknya masih mempertimbangkan pembentukan pansus meski merasa malu dengan kasus itu.
"Masih kami pertimbangkan karena memang ini masalah besar dan malu, kita BUMN kok seperti perusahaan investasi bodong," ucapnya. "Kan malu-maluin aja," ia menambahkan.
Politikus PPP Arsul Sani menyarankan audit bisnis JIwasraya. (