Ia menjelaskan, jumlah warga Apartemen Mediterania yang diputus akses kemungkinan besar bertambah lantaran masih banyak yang belum kembali dari liburan Natal dan Tahun Baru. Berdasarkan penuturannya, saat ini warga yang menempati apartemen tersebut sekitar 2 ribuan.
"(Pemutusan akses) sudah berjalan sejak akhir tahun 2018, mereka (pengurus lama) masih punya akses," kata Teguh kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (30/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teguh mengungkapkan pihaknya telah berdialog dengan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) DKI Jakarta untuk menindaklanjuti hal tersebut. Berdasarkan keterangan dinas itu, Teguh menyatakan pengurus lama telah diberi sanksi.
Namun, kata dia, hal tersebut tidak cukup. Ia pun mendesak Pemprov DKI Jakarta memberi pendampingan P3SRS dalam pengambilalihan akses apartemen. Selain itu juga melibatkan Satpol PP untuk menertibkan konflik yang terjadi.
Teguh berujar kondisi terkini dari 82 warga yang diputus aksesnya. Kata dia, terdapat satu warga yang belum diputus kartu aksesnya. Dan itu, terang dia, digunakan secara bergiliran.
"Kondisi sekarang 82 warga, mereka bergiliran. Masih ada kartu akses yang belum diputus," ujarnya.
Lebih lanjut, Teguh menambahkan sebanyak 26 P3SRS yang juga merupakan warga Apartemen Mediterania telah melaporkan kejadian ini ke Polres Jakarta Pusat.
"Pengurus P3SRS melapor ke polisi. Dari 82 itu, 26 sudah melaporkan ke Polres Jakarta Pusat," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (ryn/age)