Ade Armando Cs Cari Lawan Anies Jelang 2024, Tito Masuk Radar

CNN Indonesia | Senin, 06/01/2020 13:36 WIB
Ade Armando Cs Cari Lawan Anies Jelang 2024, Tito Masuk Radar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) dan Presiden Jokowi (tengah) yang berasal dari dua 'kubu' berbeda. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pegiat media sosial Rudi S Kamri menilai bahwa para relawan pendukung presiden Joko Widodo alias Jokowers masih belum sesolid 'kubu sebelah' yang hanya memiliki satu unggulan di Pilpres 2024. Sementara pihaknya masih belum punya calon tertentu.

Pernyataan Rudi itu terungkap dalam salah satu potongan video yang viral di media sosial Twitter @lawan077. Video itu diketahui diambil saat acara diskusi bersama relawan Jokowi dan diunggah secara lengkap oleh channel YouTube Cokro TV pada 1 Januari.

Dalam acara itu tampak aktivis perempuan Nong Darol Mahmada, Dosen UI Ade Armando, pegiat media sosial Eko Kuntadhi, Denny Siregar, Rudi S Kamri, dan pengacara Muannas Alaidid.


Pada video itu, Rudi menyatakan calon kandidat Pilpres 2024 dari kubu Jokowi jumlahnya lebih dari satu dan belum jelas. Sementara di kubu lainnya, jumlahnya hanya satu dan solid.

"Di kelompok kita itu terlalu banyak. Di kelompok sebelah hanya satu. Itu kelebihan mereka. Mereka begitu solid. Mereka begitu sabar dan kita tercerai berai," kata Rudi.

Melihat hal itu, Rudi berharap kelompok di barisan Jokowi bisa kompak. Sebab, sampai saat ini belum tahu siapa yang akan dicalonkan.

Ia pun menyebut ada beberapa nama potensial yang bisa dicalonkan pada Pilpres 2024 dari kubu Jokowi. Mereka di antaranya Mendagri Tito Karnavian hingga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

"Ada Pak Tito, ada Pak Ganjar," ucapnya.

"Ada Pak Denny Siregar, ada Pak Ade Armando, gitu ya. Kalau Pak Ade jadi presiden, wakilnya Fahira [Idris] pasti. Itu akan damai Indonesia," seloroh Rudi.

Dalam paparannya itu, Rudi beberapa kali menyinggung soal Gubernur Anies Baswedan yang diprediksi menang jika Pilpres digelar saat ini, strategi politiknya untuk Pilpres 2024, serta peringatan bahaya bagi NKRI jika 'kubu sebelah' menang di Pilpres itu.

"Jangan pernah mau terpecah belah. Jokower itu sering terpecah belah dalam banyak hal," cetus Rudi.

Pada kolom komentar unggahan @lawan007 itu, sejumlah warganet pun menyindir para Jokower yang tak punya calon untuk menandingi Anies.

Kubu Bukan Pendukung Anies Akui Soliditas 'Kelompok Sebelah'Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian
"Ini ceritanya galau. Enggak punya kader mumpuni untuk tandingi Pak Anies? Atau AHY? (dari sebelah). Pantesan aja, kerjaannya hanya mau mendegradasi Anies," kicau akun @hanifyahyaasyari.

Saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rudi membenarkan pernyataannya tersebut. Rudi mengatakan para pendukung Jokowi harus mulai membangun solidaritas dan kekompakan untuk Pilpres 2024. Ia tak ingin kasus Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 lalu terulang kembali.

Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu menunjukkan bahwa pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat kalah dari pasangan Anis Baswedan-Sandiaga Uno. Banyak pendukung Jokowi mendukung pasangan Basuki-Djarot kala itu.

"Pernyataan saya itu menggugah bahwa kita tak boleh terlena, kita harus membangun solidaritas dan kekompakan, jangan kaya kasus pilkada dki 2017, itu konteks saya seperti itu. Memberikan semangat membangun sistem," kata Rudi.

"Artinya bukan berarti saya mengunggulkan Anies bukan. Saya terus terang saja secara pribadi tak mendukung Anies," tambah dia.

Melihat hal itu, Rudi ingin agar para pendukung Jokowi bisa mencari sosok yang tepat untuk konsolidasi kekuatan guna menghadapi Anies.

[Gambas:Video CNN]
"Saya menginginkan harus ada lawan atau kompetisi yang seimbang untuk menghadapi Anies dalam pilpres. Saya imbau kelompok di luar Anies memunculkan soliditas untuk mengusung calon," kata dia.

Lebih lanjut, Rudi menyinggung nama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai sosok potensial untuk dicalonkan di Pilpres 2024.

"Saya mengakui rekam jejak beliau-beliau saya kira layak dicalonkan. Masuk radar. Tapi kan politik dinamis, butuh dukungan politik dari parpol lain," kata dia. (rzr/arh)