Angka Rp4,3 miliar itu masuk dalam Program Pengelolaan Risiko Bencana. Di dalamnya terdiri dari kegiatan Pemeliharaan dan Pengembangan Pusat Data dan Informasi Kebencanaan (DIMS, EWS, Medsos dan Call Center 112).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggaran ini juga terdiri dari perawatan Disaster Warning System sebesar Rp416.215.800 dan jumlah tenaga ahli untuk pengoperasian sebesar Rp123.600.000.
"DWS kami gunakan untuk melengkapi info peringatan yang kami kirim melalui WAG grup camat dan lurah," kata Ridwan.
Kritik PSI
Anggota Komisi A DPRD DKI dari Fraksi PSI, William Aditya Sarana mengkritik pembelian enam set pengeras suara yang disebutnya senilai Rp4 miliar. Dalam apbd.jakarta.go.id, enam set pengeras suara atau 30 W Horn Speaker buatan lokal tercatat sebesar Rp7 juta.
Menurut William sistem itu ketinggalan zaman. "Saya melihat sistem ini mirip seperti yang digunakan pada era Perang Dunia II. Seharusnya Jakarta bisa memiliki sistem peringatan yang lebih modern," kata William dalam keterangan tertulisnya.
[Gambas:Video CNN]
William menyarankan DKI mengembangkan dan fitur 'Siaga Banjir' sebagai sistem peringatan dini. Aplikasi ini dinilai lebih efektif sebagai alat komunikasi warga dengan pemerintah soal info aliran sungai serta banjir.
"Hampir semua warga Jakarta sudah memiliki telepon seluler dan kebanyakan di antaranya adalah smartphone. Aplikasi berbasis internet gawai seharusnya lebih efektif dan lebih murah ketimbang memasang pengeras suara yang hanya dapat menjangkau radius 500 meter di sekitarnya," jelas dia.
"Masak kota metropolitan seperti Jakarta dengan anggaran IT mencapai triliunan rupiah masih menggunakan sistem peringatan kuno seperti itu?" tutup dia. (ctr/wis)