Dana 115 Nasabah BNI Kendari Dibobol Melalui Skimming

CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 18:10 WIB
Dana milik ratusan nasabah BNI cabang Kendari dibobol. Jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. BNI baru mengembalikan dana milik 98 nasabah.  Ilustrasi BNI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 115 nasabah Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Kendari menjadi korban skimming sejak 18 Januari 2020 hingga Rabu 22 Januari 2020. Dari 115 nasabah itu, dua diantaranya merupakan karyawan BNI.

Bidang Layanan BNI Cabang Kendari Ikram menyebut, sebanyak 98 nasabah sudah dikembalikan uangnya kurang lebih Rp 500 juta. 

Sejauh ini, lanjut dia, BNI Cabang Kendari membuka loket aduan khusus para korban skimming. Tersisa tinggal 17 orang dari 115 nasabah yang masih diproses untuk dikembalikan uangnya.


"Kalau sesuai rencana dan tidak ada kendala, hari ini diselesaikan. Bagi nasabah yang mengalami masalah serupa, agar segera melaporkan ke kantor BNI Cabang Kendari," kata Ikram melalui pesan WhatsAppnya, Rabu (22/1).
Ia menjelaskan, skimming adalah tindakan pencurian informasi dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu debit atau kartu kredit secara ilegal.

"Kejadian ini karena skimming pihak ketiga. Data nasabah direkam melalui ATM oleh pelaku tidak bertanggung jawab," jelas Ikram.

Ia menyebut, pihaknya sudah mengantisipasi keamanan data nasabah dengan menyediakan kamera CCTV di setiap anjungan tunai mandiri (ATM).

Selain itu, pembuatan kanopi agar password ATM nasabah tidak dilihat orang lain. Dan pengamanan paling mutakhir adalah penggunaan chip di setiap kartu ATM.

Hanya saja, dari data nasabah yang mengalami skimming kebanyakan menggunakan ATM dengan perangkat chip.

"Tapi namanya penjahat berkembang terus. Dia pasang di mulut ATM. Kita antisipasi memakai chip dan tidak bisa direkam, eh ternyata bobol lagi," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Sementara Pemimpin BNI Cabang Kendari Muzakkir mengaku, pelaku skimming belum diketahui. Kasus ini, kata dia, telah dilaporkan ke BNI Pusat untuk ditindaklanjuti.

Meski demikian, BNI Kendari masih mempertimbangkan upaya hukum agar pelaku skimming segera ditangkap.

"Kita masih berkoordinasi dengan BNI Pusat soal itu (laporan ke polisi)," jelasnya.
 
Ia mengungkapkan, skimming terhadap nasabah melalui ATM tidak hanya menimpa BNI, melainkan bank lain, baik milik negara atau swasta.

"Semua ATM bisa diserang. Tapi, semua penyakit ada obatnya," tuturnya.

Ia menuturkan, dalam kasus skimming ini, BNI sudah pasti mengalami kerugian karena harus mengembalikan uang nasabah yang dicuri oleh pelaku tak bertanggung jawab.

Salah satu korban skimming, Andi Puhu mengaku mengetahui uangnya telah berkurang di BNI sebesar Rp 19 juta lewat SMS Banking.

Dari SMS Banking itu, pelaku menarik beberapa kali dengan nominal Rp 3 juta setiap penarikan. Padahal, lazimnya, penarikan di ATM limit-nya hanya Rp 2,5 juta.

"Saya berharap sistem pengamanan bank ini lebih baik agar uang nasabah bisa terlindungi," imbuhnya.
(fan/ugo)