Bidang Layanan BNI Cabang Kendari Ikram menyebut, sebanyak 98 nasabah sudah dikembalikan uangnya kurang lebih Rp 500 juta.
Sejauh ini, lanjut dia, BNI Cabang Kendari membuka loket aduan khusus para korban skimming. Tersisa tinggal 17 orang dari 115 nasabah yang masih diproses untuk dikembalikan uangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kejadian ini karena skimming pihak ketiga. Data nasabah direkam melalui ATM oleh pelaku tidak bertanggung jawab," jelas Ikram.
Selain itu, pembuatan kanopi agar password ATM nasabah tidak dilihat orang lain. Dan pengamanan paling mutakhir adalah penggunaan chip di setiap kartu ATM.
Hanya saja, dari data nasabah yang mengalami skimming kebanyakan menggunakan ATM dengan perangkat chip.
"Tapi namanya penjahat berkembang terus. Dia pasang di mulut ATM. Kita antisipasi memakai chip dan tidak bisa direkam, eh ternyata bobol lagi," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Sementara Pemimpin BNI Cabang Kendari Muzakkir mengaku, pelaku skimming belum diketahui. Kasus ini, kata dia, telah dilaporkan ke BNI Pusat untuk ditindaklanjuti.
Meski demikian, BNI Kendari masih mempertimbangkan upaya hukum agar pelaku skimming segera ditangkap.
"Kita masih berkoordinasi dengan BNI Pusat soal itu (laporan ke polisi)," jelasnya.
Ia mengungkapkan, skimming terhadap nasabah melalui ATM tidak hanya menimpa BNI, melainkan bank lain, baik milik negara atau swasta.
"Semua ATM bisa diserang. Tapi, semua penyakit ada obatnya," tuturnya.
Ia menuturkan, dalam kasus skimming ini, BNI sudah pasti mengalami kerugian karena harus mengembalikan uang nasabah yang dicuri oleh pelaku tak bertanggung jawab.
Salah satu korban skimming, Andi Puhu mengaku mengetahui uangnya telah berkurang di BNI sebesar Rp 19 juta lewat SMS Banking.
Dari SMS Banking itu, pelaku menarik beberapa kali dengan nominal Rp 3 juta setiap penarikan. Padahal, lazimnya, penarikan di ATM limit-nya hanya Rp 2,5 juta.
"Saya berharap sistem pengamanan bank ini lebih baik agar uang nasabah bisa terlindungi," imbuhnya.