Itu pula yang berlaku bagi warga Tionghoa saat perayaan Imlek. Di Wihara Dharma Bakti, Grogol, Jakarta Barat sejumlah orang yang tengah melakukan ritual ibadah melepaskan burung sebagai makna melepas keburukan dalam hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu kalau melepaskan burung berarti melepaskan hal-hal yang buruk. Makanya intinya seperti itu aja. Terus memberi penghidupan burung kembali ke habitatnya," kata Lucas kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (25/1).
Alex (36 tahun), warga Sunter Jakarta Utara, berharap burung yang ia lepaskan kali ini menjadi keberkahan bagi hidup keluarganya. Ia berharap agar semua keburukannya di masa lalu tak kembali terulang.
"Ya lebih makmur. Lebih bagus lagi tahun ini. Lebih baik lagi ke depannya. Lebih makmur dan rezeki lebih banyak lagi," katanya di Wihara Dharma Bakti.
Ada berbagai jenis burung yang dilepaskan warga Tionghoa untuk ritual ibadah mereka di Wihara Dharma Bakti. Umumnya, burung-burung itu adalah jenis burung peking, sementara sisanya ada burung tekukur dan merpati.
[Gambas:Video CNN]
Burung itu mereka dapat dari penjual di depan Vihara. Dalam sekali pelepasan, jumlahnya antara 50-108 ekor burung dengan kisaran harga antara Rp1.200-1.500 per ekor untuk burung peking.
Budi sudah 20 tahun menjual burung di depan Wihara Dharma Bakti, Grogol, Jakarta Barat. "Ya lumayan lah," kata Budi kepada CNNIndonesia.com saat ditanya keuntungan bisnisnya itu, Sabtu (25/1). (thr/wis)