LIPUTAN KHUSUS

Berakit-rakit ke Sekolah, Basah dan Becek Kemudian

Nurika Manan, CNN Indonesia | Jumat, 14/02/2020 10:02 WIB
Berakit-rakit ke Sekolah, Basah dan Becek Kemudian Siswa sekolah marjinal di Kampar Riau harus menggunakan rakit jika volume sungai meninggi akibat hujan (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Air sungai sedang deras dan juga dalam sehingga tak bisa dilalui dengan langkah kaki. Orang-orang berdiri di atas sepetak papan kayu yang mengantarkan mereka ke seberang.

Malam sebelumnya hujan mengguyur Desa Batu Sasak, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Air-air itu menjadikan permukaan sungai meninggi.

Sungai ini memisahkan Dusun Sialang Harapan dengan dusun lain di Desa Batu Sasak. Warga yang hendak ke kota atau sebaliknya, harus menyeberangi aliran anak Sungai Kampar.


Termasuk Arosel. Guru sekolah marginal atau SDN 010 Sialang Harapan ini harus melintasi sungai untuk mencapai sekolah tempatnya mengajar.

Kaki perempuan usia 37 tahun itu berjingkat, sedikit melompat, menaiki rakit. Arosel mengangkat rok hitamnya di atas mata kaki. Postur ibu dua anak tersebut, mungil.

Rok hitam ia padankan dengan kemeja putih dan kerudung warna jambon plus manik-manik di pinggirannya. Arosel telah siap sejak pukul 06.30 WIB. Siswanya akan masuk kelas pukul 07.30 WIB.

"Anak-anak itu semangat. Kadang kan kalau anak hujan itu agak malas, sering mereka itu jalan kaki. Gurunya juga," tutur Arosel.

Guru dan murid sama-sama kepayahan sesampainya di sekolah. Terlebih jika hari hujan. Meski begitu, Arosel selalu berusaha sampai sekolah tepat waktu walau yang diajarnya hanya sedikit siswa.

Sesampainya di kelas, Arosel mendapat siswanya dengan sandal yang sudah tak keruan bentuknya. Sudah berwarna cokelat tanah. Ada pula yang celananya dilipat hingga ke betis.
Arosel harus menghadapi banyak rintangan dalam perjalanan dari rumah menuju sekolah marginal Arosel harus menghadapi banyak rintangan dalam perjalanan dari rumah menuju sekolah marginal (CNN Indonesia/Safir Makki)
Mereka memang harus melalui jalanan berupa tanah lempung diselingi bebatuan tak beraturan. Belum ada aspal di dusun ini.

Setelah itu, usai berjuang dalam perjalanan, Arosel juga harus memaklumi kondisi sekolah tempatnya mengajar. Kondisi sekolah sungguh mengkhawatirkan.

Banyak meja dan kursi yang reyot. Temboknya pun telanjang, sehingga susunan batu bata terlihat jelas.

Bangunan sekolah marginal ini letaknya tak jauh dari hutan. Dari lubang jendela yang bolong karena tak berkaca, semak belukar dan pepohonan bisa terlihat. Nyamuk pun bebas seliweran mengganggu siswa di kelas.

Namun, Arosel tetap semangat mengajar. Dia berkaca dari siswanya yang tetap ingin menimba ilmu dengan segala keterbatasan sekolahnya.

"Saya senang menghadapi anak-anaknya. Mungkin senang lagi tu (karena) anak-anak yang sedikit itu, bukan banyak seperti di sekolah induk," kata dia.

Arosel tinggal di Desa Batu Sasak dan harus menuju Dusun Sialang Harapan untuk mengajar di sekolah marjinal. Ada banyak rintangan yang harus dihadapi untuk bisa sampai di sekolah.

Demi mendapat ilmu, siswa sekolah marginal kerap menghadapi medan sulit Demi mendapat ilmu, siswa sekolah marginal kerap menghadapi medan sulit (CNN Indonesia/Safir Makki)
Perjuangan serupa dirasakan Yanda Adelia Putri. Jika Arosel berangkat dari Desa Batu Sasak menuju Dusun Sialang Harapan, Yanda sebaliknya.

Yanda menuju Desa Batu Sasak untuk bersekolah di SDN 010. Dia kini duduk di kelas 6. Saat kelas 1-4, dia menimba ilmu di sekolah marginal.

Tak jarang Yanda melompati bebatuan besar untuk menyeberangi sungai. Itu bisa dilakukan ketika air sedang dangkal dan arus tak begitu deras.

Namun saat musim hujan, volume air meninggi. Dia tidak bisa lagi melompati bebatuan yang sudah tertutup permukaan air. Satu-satunya cara adalah menggunakan rakit.

Berbeda lagi jika terjadi hujan tiada henti hingga mengakibatkan banjir. Pernah suatu kali itu terjadi pada 2015. Sekolah terpaksa libur karena sungai meluap.

"Susah tu, kalau hari hujan tu belajarnya. Kalau banjir biasa, (meski) jalanan becek, tetap [pergi] sekolah. (Karena) Kami ingin belajar," tutur dia.

Walau banyak rintangan yang harus dia hadapi saat menuju sekolah, Yanda tak ingin berhenti di tingkat SD. Dia ingin lanjut ke SMP meski di desanya tak ada satuan pendidikan tingkat tersebut.

Dia bertekad masuk SMP di Desa Lipat Kain. Jarak yang akan ditempuhnya tentu lebih jauh dibanding ketika bersekolah di tingkat SD.

"Doakan Yanda diterima di SMP ya, di Lipat Kain," tuturnya.

Siswa sekolah marginal tetap antusias mendapatkan pelajaran meski sering kepayahan untuk bisa sampai di sekolahSiswa sekolah marginal tetap antusias mendapatkan pelajaran meski sering kepayahan untuk bisa sampai di sekolah (CNN Indonesia/Safir Makki)
Tetap Semangat Belajar

Sekolah marjinal, meski sangat sederhana, tetap diisi dengan suasana belajar yang kondusif. Siswanya antusias untuk menimba ilmu meski sering kepayahan ketika sampai di sekolah.

Saat CNNIndonesia.com berkunjung, siswa baru saja selesai menempuh ujian. Sedang tidak ada pelajaran yang dibahas.

Para guru mengisi waktu dengan membahas ulang pelajaran dengan ringan. Ada soal nilai-nilai pancasila, menyanyikan lagu kebangsaan dan, hapalan surat-surat pendek Al Quran. Kebetulan seluruh siswa beragama Islam.

"Coba surat Al Ikhlas, siapa yang bisa?" Asmawati, guru sekolah marjinal, bertanya kepada siswa.

Tawaran itu disambut acungan jari beberapa anak. Sebagian besar hafal saat ditanya soal surat pendek. Begitu pun saat diminta menghapal Pancasila.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Riau, ada 62 kelompok belajar atau sekolah marginal yang menginduk ke 50 SD Negeri. SDN 010 Sialang Harapan hanya satu di antaranya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Ahyu Suhendra mengakui hampir sebagian besar sekolah marginal kondisinya masih jauh dari layak sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Namun, dia tak bisa berbuat banyak.

"Saya rasa mungkin hampir, masih banyak (sekolah marginal) yang belum tersentuh. Karena apa, kami juga terbatas dengan anggaran kami. Anggaran APBD," imbuhnya.

Simak perjuangan siswa-siswa sekolah dasar SDN 010 di Dusun Sialang Harapan pada video di bawah ini:

[Gambas:Video CNN]


Artikel ini merupakan bagian dari serial Liputan Khusus CNNIndonesia.com dengan tajuk Dilema Pendidikan Mas Menteri. Simak selengkapnya di sini.


(bmw/gil)