Direktorat Polairud Polda Maluku Utara telah mengambil sampel air laut dan bangkai ikan serta meminta keterangan warga pesisir. Penyelidikan dimulai dari Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, tempat fenomena ini pertama kali muncul Senin (24/2) kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangkai ikan berbagai jenis masih terapung di permukaan maupun bawah laut pesisir Ternate dan Halmahera Selatan. Di permukaan laut, bau busuk bangkai ikan juga mulai tercium.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate ikut mengirimkan sampel ikan yang mati ke laboratorium di Manado, Sulawesi Utara.
"Kami bekerja sama dengan DLH Provinsi, Dinas Kesehatan dan kepolisian sudah mengambil sampel di koordinat kedalaman 25 meter sampai 40 meter, kami kirim ke lab Manado untuk memastikan penyebab ikan mati," tutur Kepala Bidang Pencemaran dan Pengrusakan Dampak Lingkungan (DLH) Ternate, Syafiudin Wilan.
Fenomena perubahan warna air laut dan ratusan ekor ikan mati misterius pertama kali muncul di perairan Pulau Makian, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Ratusan ikan mati mengapung di pesisir pantai.
[Gambas:Video CNN]
Tak lama, fenomena serupa muncul di perairan Kota Ternate, tepatnya di area pantai Falajawa. Sejumlah penyelam menemukan beragam jenis hewan laut mati hingga kedalaman 12 meter di bawah permukaan laut.
Demi keselamatan, pihak berwenang juga melarang warga mengambil dan mengonsumsi ikan-ikan mati yang terdampar di pesisir pantai. (wis)