Waswas Corona, Menertawai Pemerintah Ala Sopir Taksi Bandara

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Jumat, 28/02/2020 09:50 WIB
Waswas Corona, Menertawai Pemerintah Ala Sopir Taksi Bandara Ilustrasi stok kosong makser, menyusul peningkatan kewaspadaan terhadap virus corona. (CNN Indonesia/Khaira Ummah Junaedi Putri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Namanya Efik Avan Anazi. Punya profesi yang bisa jadi cukup cemas karena virus corona. Pria berpostur besar ini tiap hari mengantar para penumpang dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Tak jarang Efik mengantar mereka yang baru bepergian dari luar negeri.

"Siapa sih yang kerjaannya borong masker? Pengen saya temuin. Sekarang susah banget cari di minimarket," kata Efik, sang supir taksi online bandara, mengeluh.


CNNIndonesia.com berbincang dengan Efik di sela perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta, Kamis (27/2) petang. Siang sebelumnya, bandara yang beroperasi sejak 1985 itu gaduh lantaran jemaah umrah batal berangkat karena Arab Saudi tak buka pintu karena khawatir corona.
Beberapa pekan terakhir, Efik mengaku makin waswas setiap kali mengantar warga negara asing dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Efik mengaku tak ada hari tanpa mengantar orang asing.

"Sebagian besar itu dari negara Asia, enggak tahu Korea, China, Jepang, Malaysia. Takut juga saya," ucap Efik.

Beberapa hari lalu, kata Efik, dia mengantar penumpang dengan wajah khas Asia Timur. Muka sang penumpang, seingat dia, pucat. Tubuhnya juga lemas. Saat di perjalanan, Efik mengetahui sang penumpang mengalami flu. Efik takut si penumpang terjangkit corona yang dibawa dari luar negeri.

Meski begitu, Efik mengaku tak pernah menolak penumpang apapun alasannya. Dia hanya mengusahakan untuk menggunakan masker dan menjaga kebersihan mobil setiap pulang.
Waswas Corona, Menertawai Pemerintah Ala Sopir Taksi BandaraTerminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Persoalannya, keluh dia, akhir-akhir ini ia kesulitan mendapatkan masker. Jika ada stok di toko pun, kata dia, harganya bisa sepuluh kali lipat dari harga normal.

"Kemarin sampai saya cuci lagi maskernya," ucap Efik sambil tertawa.

[Gambas:Video CNN]

Di sela-sela perbincangan, warga Pondok Gede itu mengaku heran dengan pemerintah. Dia bertanya-tanya kenapa tidak ada tindakan pencegahan yang serius dari pemerintah, misalnya menyediakan masker gratis.

Dia malah heran dengan pernyataan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang malah menyalahkan warga yang ramai-ramai membeli masker karena takut terpapar corona.

"Kok ngaco ya menteri. Suruh ketemu saya dan driver bandara lah. Kita ngobrol," ucapnya berbalut tawa.
Sejak merebak 2019 lalu, virus corona (Covid-19) telah menewaskan 2.801 orang di China. Sebanyak 2.641 orang di antaranya berasal dari Hubei, provinsi yang diduga asal penyebaran virus tersebut.

Virus ini disebut menyebar lewat pernapasan. Beberapa kasus penularan melibatkan sopir taksi. Misalnya korban corona pertama di Thailand yang tertular pada Jumat (31/1). Atau seorang sopir taksi di Okinawa, Jepang, yang terpapar corona setelah mengantar penumpang kapal pesiar Diamond Princess.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan banyak berita hoaks yang soal virus corona menyebabkan masyarakat menjadi tak rasional. Salah satunya berakibat pada minimnya pasokan masker dan harga melonjak tinggi.

"Berita hoaks atau setengah hoaks hingga menimbulkan suasana chaos, suasana panik, dan membikin masyarakat kita berpikir tidak rasional seperti ramai-ramai memborong masker," ujar Muhadjir saat memberikan keterangan di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Senin (17/2).

Kepanikan masyarakat itu, menurut Muhadjir, yang dimanfaatkan sejumlah pihak untuk menaikkan harga masker menjadi tidak wajar. Padahal sesuai anjuran Menteri Kesehatan, kata dia, masker hanya digunakan bagi mereka yang sakit dan orang yang berisiko karena pekerjaan di bidang kesehatan.


(ain)