"Kami konfirmasi dengan dirutnya (RSPI) bisa nggak intervensi psikologis, dan itu sudah dilakukan, untuk supporting kejiwaan," ucap Yurianto di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/3).
Yurianto menyebut pasien kasus 01 diduga masih positif karena secara psikologis merasa tertekan akibat identitasnya yang tersebar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya pasien kasus 08 dirawat dengan ventilator dan menggunakan alat bantu pernapasan. Hal ini karena yang bersangkutan sudah mengeluh sakit diare dan punya penyakit diabetes sebelum tertular virus corona dari istrinya.
"Sekarang ventilator sudah dilepas, dan sudah bisa bernapas spontan. Meskipun masih menggunakan [alat bantu] oksigen," tambah Yurianto.
Sedangkan kasus-kasus lainnya, terlepas dari kasus 06 dan kasus 14 yang pada pemeriksaan pertama sudah negatif, kondisi fisik mereka sudah mulai membaik.
Diketahui sore kemarin pemerintah mengumumkan 13 kasus baru positif virus corona di Indonesia. Total kasus covid-19 di Indonesia sejauh ini 19 orang.
Kemudian ada pasien yang merupakan klaster imported case alias kasus dari luar negeri, yakni kasus 06 yang merupakan ABK Kapal Pesiar Diamond Princess, kasus 07, kasus 09, kasus 14, kasus 17, kasus 18, dan kasus 19. Terakhir kasus 08 yang menular dari kasus 07, dan kasus 16 menular dari kasus 15.
RSPI Rancang Program Pulihkan Kondisi Psikologis Pasien Corona
[Gambas:Video CNN]
Pemulihan Psikologis Pasien Positif Corona
Sementara itu RSPI Sulianti Saroso juga saat ini juga tengah merancang program untuk membantu pemulihan kondisi psikologis pasien positif corona yang diisolasi. Hingga Selasa (10/3), ada 6 pasien positif corona dan 3 pasien dalam pengawasan yang diisolasi di RSPI.
"Kami sedang mengupayakan untuk membuat suatu video, kemudian yang bisa dilihat para pasien ini supaya membantu psikologis mereka, jadi apapun juga kami upayakan untuk memperbaiki kondisi mereka," kata Direktur Medik, Keperawatan dan Penunjang RSPI Sulianti Saros, Dyani Kusumowardhani, Selasa (10/3).
"Intinya akan membantu pasien yang dalam perawatan, di ruang isolasi, sendiri, dalam keadaan mungkin tidak nyaman ya, bisa menjadi lebih baik dan mendukung untuk percepatan kesembuhan pasien," kata dia.
Ia mengatakan, saat ini, pasien yang sedang diisolasi memang diperkenankan untuk menggunakan telepon genggam. Namun hal tersebut sebenarnya sempat menjadi pertimbangan pihak rumah sakit mengingat ponsel merupakan barang di luar kebutuhan perawatan.
"Kalau melihat ada barang lain masuk selain kebutuhan perawatan, itu kan menambah resiko untuk penularan penyakit. Tetapi dengan pertimbangan lain, kami masih mengizinkan dengan ketentuan bahwa dia tidak melakukan kontak yang berlebihan," kata Dyani. (fey/yoa/osc)