Risma lebih memilih membuat protokol pencegahan corona di Surabaya. Berbagai petinggi instansi diundang untuk berkoordinasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kalau itu [lockdown] ekonomi bisa kolaps, itu jauh lebih berat, karena tidak semua orang pendapatannya bulanan. Ada yang harian dan itu bahaya kalau enggak [dapat pemasukan]," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Risma meminta mereka membuat protokol pencegahan virus corona di area mereka masing-masing. Menurutnya, ini sangat penting guna menekan penularan virus tersebut.
"Sebenarnya memang disarankan untuk tidak mengadakan pertemuan, tapi saya harus lakukan ini supaya mereka membuat protocol di sekitar mereka masing-masing, sehingga diharapkan pencegahannya bisa lebih efektif," katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa Pemkot Surabaya telah membuat beberapa protokol untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Salah satunya penyediaan fasilitas cuci tangan dan alat pengukuran suhu badan di tempat umum, serta penyimpanan karpet di masjid-masjid.
Tak hanya itu, Pemkot Surabaya juga melakukan penyemprotan cairan desinfektan ke sejumlah fasilitas dan tempat umum. Dimulai dari Balai Kota Surabaya. Ia juga mengimbau agar sejumlah stakeholder lain melakukan hal serupa.
"Jadi, mari kita buat protokol yang sesuai dengan kondisi dan keadaannya masing-masing, silakan disesuaikan," kata dia.
Sejauh ini, per 16 Maret, ada 134 orang positif mengidap virus corona. Ada 8 dinyatakan telah sembuh dan 5 di antaranya meninggal dunia.