Dalam hal ini, pernyataan Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Kapolda Sultra) Brigadir Jenderal Merdisyam berbeda dengan apa yang disampaikan Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM Sultra Sofyan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, hal ini perlu diperhatikan oleh jajaran Polri demi menghindari suasana gaduh di tengah masyarakat.
Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino |
Merdisyam mengatakan 49 TKA China yang baru tiba di Bandara Haluoleo merupakan pekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) Morosi Kabupaten Konawe.
Ia mengklaim para TKA ini datang dari Jakarta untuk memperpanjang visa yang telah habis menyusul larangan keluar masuknya TKA. Ia juga mengatakan para TKA bukan datang dari negeri asalnya, China.
"TKA itu, baru saja datang dari Jakarta untuk mengurus izin kerja dan perpanjangan kontrak dan kembali ke Morosi untuk kembali bekerja," katanya.
Namun, Sofyan mengoreksi pernyataan Merdisyam dengan menyatakan bahwa 49 TKA itu berasal dari China dan merupakan pekerja baru yang masuk di Sultra.
Sofyan menjelaskan mereka masuk ke Indonesia menggunakan visa kunjungan dan akan bekerja di pabrik smelter PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) Morosi, Kabupaten Konawe.
"Mereka tiba di Thailand pada 29 Februari 2020," katanya.
Video berdurasi 58 detik yang merekam kedatangan 49 TKA asal China viral di media sosial. Video tersebut direkam melalui ponsel milik Harjono (38), seorang sopir taksi saat menunggu penumpang di pintu keluar bandara.
Namun karena rekaman video itu, Harjono malah ditangkap polisi. Warga Desa Onewila Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara itu dianggap menyebarkan video hoaks soal antisipasi virus corona.
Kapolda Sultra sempat mengingatkan masyarakat agar tidak mengunggah sembarangan di media sosial.
[Gambas:Video CNN]
(mts/pmg)
Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino