"Besok baru mulai pemeriksaan. Katanya Pak Gubernur mau meresmikan. Lokasinya di Fakultas Kedokteran Unand di Jati. Tadi wakil gubernur sudah ke sini untuk meninjau," ujar Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand, Andani Eka Putra, kepada CNNIndonesia.com, Senin (23/3/).
Pihaknya menyatakan siap untuk melakukan pemeriksaan karena reagen-bahan yang digunakan untuk menganalisis dan mendeteksi virus-sudah tiba setelah diimpor dari Korea Selatan dan Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memperbanyak RNA, dipakai reagen PCR. Positif atau tidak sampel itu terinfeksi virus corona akan tampak dari kurva. Jika kurvanya naik, berarti positif. Jika kurvanya turun, berarti negatif.
Untuk tiga hari ke depan, Unand hanya memiliki seratus reaksi kimia. Sementara itu, untuk menguji satu sampel dibutuhkan empat reaksi kimia.
"Reaksi yang kami miliki masih sedikit dan mendapatkannya susah payah. Kami ingin menguji 150 sampai 200 sampel sehari, tapi itu tergantung reagen. Kami sudah pesan 3.000 reaksi dari Singapura. Kamis atau Jumat nanti mungkin tiba," tuturnya.
Karena jumlah reagen terbatas, Unand hanya memeriksa orang yang ditargetkan. Target pertama ialah pasien dalam pengawasan (PDP). Target kedua tenaga kesehatan, dan ketiga orang dalam pengawasan (ODP). Pemeriksaan tersebut gratis.
[Gambas:Video CNN]
Secara spesifik, pemeriksaan itu dilakukan oleh Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand.
Lembaga tersebut, kata Andani, mampu mendeteksi corona karena berpengalaman dalam riset virus dan berupaya mengembangkan produk diagnostik nasional. Lembaga itu juga memiliki peralatan cukup lengkap untuk menganalisis bahan infeksius.
Karena pengujian sampel pasien terduga Covid-19 bisa dilakukan di Fakultas Kedokteran Unand, sampel pasien di Sumbar tak perlu lagi dikirim ke Balitbangkes Kemenkes.
Selama ini, pengujian sampel seluruh Indonesia dilakukan Balitbangkes Kemenkes sehingga hasil sampel pasien keluar minimal empat hari. (adb/has)