Wakil Wali Kota Tegal: Mestinya Bandara dan Stasiun Ketat

CNN Indonesia | Kamis, 26/03/2020 23:30 WIB
Wakil Wali Kota Tegal: Mestinya Bandara dan Stasiun Ketat Kendaraan padat merayap saat melintas di jalur Pantura, Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kota Tegal akan melakukan local lockdown untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Local lockdown akan diberlakukan 30 Maret hingga 30 Juli 2020.

Nantinya, seluruh perbatasan Kota Tegal akan ditutup dengan menggunakan movable concrete barrier (MBC). Namun, Pemkot Tegal menegaskan akses jalan provinsi dan jalan nasional tidak akan dibatasi.

Hingga Kamis (26/3), di Kota Tegal terdapat satu pasien positif corona dan 14 Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Rincian orang berstatus PDP, empat orang dari Kota Tegal, enam orang dari Kabupaten Tegal, tiga orang dari Kabupaten Brebes, dan seorang dari Kabupaten Pemalang.


Wakil Wali Kota Tegal Muhammad Jumadi mengatakan keputusan untuk melakukan local lockdown dilakukan setelah seorang warga Tegal berusia 34 tahun dinyatakan positif corona. Pria tersebut dirawat di RS Kardinah Kota Tegal sejak 16 Maret 2020, sepulang dari Abu Dhabi. Dia juga mempertanyakan pengawasan di bandara, dan stasiun selama pandemi corona.

"Bagaimana mungkin TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang sakit bisa lolos sampai ke Tegal. Berarti bagaimana perlakuan di bandara? di stasiun? Kalau seperti ini bisa repot daerah tidak mampu menahan laju pandemi corona kalau kami tidak ketatkan untuk memeriksa semua yang masuk ke Tegal," kata Jumadi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/3).
Dia menjelaskan, pasien positif itu juga diketahui menggunakan transportasi umum kereta api (KA). "Coba kalau KA Ketat tidak akan ada itu positif corona di Kota Tegal, berarti KA tidak ketat dan Tugas KA itu mesti dicek itu penumpang satu gerbong turun dimana saja, bahkan satu Kereta mesti dicek, ini yang membahayakan," katanya.

Jumadi mengatakan, masyarakat harus memahami bahwa Jakarta sudah termasuk kategori parah, sementara banyak masyarakat yang mudik.

"Cek Jateng kenapa cepat kasus yang ODP, PDP, Positif, itu karena banyak orang mudik dari Jakarta, ini bisa lebih berbahaya dan susah dikontrol, bisa seperti Italia, orang tidak patuh untuk tidak keluar rumah, mestinya bandara dan stasiun ketat. Itu akses dari Jakarta ke Jateng dan sekitarnya, ini bisa berbahaya," katanya.

Menurut Jumadi, mestinya terminal-terminal dijaga ketat untuk mengantisipasi penyebaran corona. "Kalau Jakarta saja kerepotan, apalagi kota-kota di Jateng yang terbatas segala-galanya, tenaga medis terbatas, RS terbatas, Alat Pelindung Diri (APD) terbatas, apa tidak lebih membahayakan?" kata Jumadi.

[Gambas:Video CNN]


Dia menuturkan, ruang isolasi di RS-RS Tegal saat ini sudah penuh, APD kurang, test SWAB membutuhkan waktu yang lama karena harus dikirim ke Jakarta atau Yogyakarta. Bila tidak diambil sikap tegas seperti pembatasan akses maka daerah akan mengalami kesulitan.

"Bisa ambyar," katanya.

Jumadi menjelaskan, nantinya titik-titik yang dibuka di Tegal, seperti jalan nasional akan diawasi ketat.

"Ada yang kita buka tapi dengan perlakuan ketat akan kita cek suhu badan dan lain-lain, kalau ada masalah langsung diminta ke RS, misal suhunya 38 derajat, langsung diantar ambulance kirim ke RS," katanya.
(ugo/ugo)