KawalCovid19 ke Jokowi: Mohon Segera Karantina Wilayah

CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 07:23 WIB
KawalCovid19 ke Jokowi: Mohon Segera Karantina Wilayah Ilustrasi pasien virus corona. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- KawalCovid19 menyerukan pemerintah pusat segera mengambil langkah karantina wilayah untuk menekan penyebaran wabah virus corona semakin meluas. 

KawalCovid19 didirikan oleh sejumlah orang (sebagian merupakan relawan KawalPemilu) untuk mengurai derasnya informasi seputar Covid-19. KawalCovid19 membuat situs untuk menjadi sumber informasi terpercaya seputar Covid-19 di Indonesia. Inisiatif ini diluncurkan karena keprihatinan akan kesimpangsiuran informasi yang beredar di Indonesia mengenai Covid-19.

KawalCovid19 telah membuat rekomendasi kepada Presiden Joko Widodo. Dalam "Brief Presiden Republik Indonesia terkait Penanganan Pandemik Covid-19", KawalCovid meminta kepada Jokowi agar segera melakukan karantina wilayah. Rekomendasi kepada presiden itu dibuat 28 Maret 2019.


"Pertumbuhan wabah COVID-19 bersifat eksponensial, bukan linear," demikian ditulis KawalCovid19.

KawalCovid19 menyimpulkan, "Kita membutuhkan kebijakan yang lebih agresif yaitu karantina wilayah untuk menjamin pemutusan rantai penularan untuk sementara dan memberikan waktu untuk pihak berwenang untuk menemukan, mengisolasi kasus-kasus yang belum terdeteksi ini dan contact tracing yang agresif dari kasus-kasus tersebut."

Seorang Pegiat Kawal Covid19 Septian Hartono mengatakan karantina wilayah penting diterapkan karena kasus corona di Indonesia banyak yang belum terdeteksi. Hal ini mengacu pada perhitungan yang dilakukan pihaknya.

"Kalau dari satu kasus menjadi dua kasus butuh waktu empat hari. Maka dari 100 kasus menjadi 200 kasus butuh 4 hari juga. Dari 1.000 kasus menjadi 2.000 kasus butuh 4 hari juga. Dari 10.000 kasus menjadi 20.000 kasus butuh 4 hari juga," ujarnya melalui akun Twitternya, @septian.


Septian menyebutkan, saat jumlah kasus positif bertambah akan ada penyebaran kasus baru yang semakin banyak. Sementara penularan terhadap dua orang, 200 orang maupun 2.000 orang, waktunya sama. Semakin banyak kasus yang didapati, semakin banyak pula penambahan kasus baru dalam waktu singkat.

Belum lagi mempertimbangkan faktor ketertundaan dalam menemukan kasus baru. Ini karena pada penyakit virus corona ada masa inkubasi hingga gejala muncul, sehingga pasien sering tak terdeteksi.



Jika perhitungan tersebut teruji, artinya jumlah kasus positif di Indonesia bisa jadi lebih banyak dari yang terkonfirmasi. Perhitungan jumlah kasus sebenarnya tidak hanya dilihat dari kasus yang terkonfirmasi.

"Jangan melihat dari jumlah yang terkonfirmasi, yang lebih merefleksikan keterbatasan kapasitas testing kita. Yang dapat dilihat dari banyak PDP (Pasien Dalam Penanganan yang meninggal dunia sebelum hasil tesnya keluar)," ujarnya.


Estimasi jumlah kasus di Indonesia, kata Septian, justru lebih akurat dilihat dari data kematian. Dia membandingkan dua negara, Indonesia dan Filipina sebagai contoh. Indonesia memiliki angka kematian 8,83 persen dan Filipina 6,33 persen.

Indonesia baru mengumumkan kasus pertama pada 2 Maret, dan Filipina pada 30 Januari. Hingga akhir Februari kedua negara memiliki jumlah kasus yang rendah, yakni Indonesia nol kasus dan Filipina tiga kasus.

Namun hingga akhir Maret, keduanya justru memiliki angka kematian tertinggi di antara negara lain. Hal ini bisa jadi mengindikasi, kata Septian, kedua negara memiliki deteksi yang buruk selama Januari hingga Februari.

"Ini artinya fenomena gunung es Covid-19 di Indonesia dan Filipina jauh lebih besar ketimbang negara-negara lain ketika kasus-kasus yang tidak terdeteksi dari bulan Januari terus berlipat ganda," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]

Menurut perhitungannya, jika pada bulan Januari sesungguhnya sudah ada kasus corona yang tidak terdeteksi. Setidaknya satu kasus di bulan Januari bisa menularkan kepada 30 ribu kasus hingga sekarang. Ini baru menghitung perkiraan satu kasus di bulan Januari.

Untuk itu Indonesia, menurut Septian, tidak bisa menekan penyebaran kasus dengan gencar pemeriksaan seperti yang dilakukan Korea Selatan. Hal ini karena keterbatasan pemeriksaan jadi kendala di Indonesia.


Sehingga, menurutnya, karantina wilayah jadi solusi paling tepat memutus mata rantai penyebaran corona. Sembari pemerintah terus melacak kasus-kasus yang belum terdeteksi hingga hari ini.

"Jika wabah covid-19 ini terus tidak terkendali seperti sekarang. Skenario terburuknya adalah 60 sampai 70 persen penduduk indonesia dapat terinfeksi penyakit ini dengan tingkat kematian 1 sampai 4 persen, yaitu 1,6 juta sampai 7,5 juta orang," tutup Septian.

Karantina wilayah sudah mulai dilakukan sejumlah daerah. Namun keputusan diambil oleh masing-masing daerah. Pemerintah pusat hingga kini belum memutuskan kebijakan karantina maupun lockdown secara masal.


(fey/osc)