PDP Corona Asal Jakarta Meninggal di Mojokerto

CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2020 06:44 WIB
PDP Corona Asal Jakarta Meninggal di Mojokerto Ilustrasi pasien corona. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Surabaya, CNN Indonesia -- Seorang Warga DKI Jakarta yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona (Covid-19), dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit swasta Kota Mojokerto, Jawa Timur. Pasien tersebut meninggal bahkan sebelum terkonfirmasi positif corona.

Ia diduga tak jujur dengan menutupi riwayat perjalanannya kepada petugas dan menolak untuk dilakukan tes swab.

Hal itu diungkapkan oleh Juru Bicara Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Christiana Indah Wahyu.


"Pasien PDP tersebut masuk pada data Kota Mojokerto, datang dari Jakarta tanggal 21 Maret 2020 untuk mengunjungi keluarganya," kata Indah melalui keterangan tertulisnya, Selasa (31/3).


Saat tiba di Kota Mojokerto, pasien tersebut telah mengalami sakit. Dengan gejala batuk, mual, muntah, sakit kepala dengan suhu tubuh 37,8 derajat celsius.

"Pada tanggal 23 Maret, pasien ini mengalami sakit lagi dengan keluhan mual dan keringat dingin. Saat itu, pasien dilakukan pemeriksaan laboratorium dan rontgen. Dengan hasil, trombosit turun, leukosit turun," kata dia.

"Sedangkan dari hasil rontgen, tidak ada gambaran infiltrat. Yang kemudian dirujuk ke rumah sakit swasta dengan diagnosa demam berdarah," tambahnya.

Pasien itu kemudian masuk ke IGD rumah sakit swasta pada 23 Maret 2020. Kepada petugas pasien diduga tidak berkata jujur bahwa ia merupakan warga Jakarta yang sedang berkunjung ke daerah.


Selama pasien dirawat di rumah sakit swasta, barulah diketahui dari hasil rontgen jika di dalam paru-parunya terdapat infiltrat. Di situlah kemudian pasien mengungkapkan riwayatnya pernah tinggal di Jakarta.

"Setelah dicek ulang, pasien baru jujur mengatakan riwayat tinggal di Jakarta sebelum datang ke Mojokerto. Akhirnya tanggal 27 Maret, pasien dipindahkan ke ruang isolasi," ujarnya.

"Setelah itu pada 28 Maret, karena paru semakin memburuk kami berupaya mencari rumah sakit rujukan di Surabaya, Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto, tapi semuanya penuh," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Kemudian pada hari yang sama, lanjut Indah, saat pihak rumah sakit akan melakukan pengambilan swab, pasien itu menolak dengan tegas dan tidak kooperatif kepada petugas medis.

"Padahal dari hasil rapid test Covid-19, pasien PDP memiliki hasil strip dua samar - samar. Tapi, saat kami lakukan pemeriksaan sesuai standar PDP, pasien tidak kooperatif dan menolak," katanya.


Kemudian pada tanggal 29 Maret, pasien pun mengalami penurunan kondisi dengan saturasi oksigen menurun. Hingga 30 Maret, pukul 24.00 WIB pasien dinyatakan meninggal dunia.

"Hari ini di makamkan di Trowulan, Mojokerto. Tentunya, pemulangan jenazah sesuai dengan ketentuan pemakaman seperti pasien positif Covid-19," tandasnya. (frd/osc)