Stok Primer Covid-19 Menipis Hambat Pemeriksaan Lab di Yogya

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 11:47 WIB
Sekda DIY menyatakan pihaknya meminta tambahan primer untuk tes Covid-19 ke pusat karena persediaan yang ada di sana hanya untuk hitungan hari saja. Ilustrasi tes risiko infeksi virus corona (Covid-19). (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Persediaan primer untuk tes infeksi virus corona (Covid-19) di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini mulai menipis.

"Tinggal untuk beberapa hari ke depan saja," kata Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji melalui pernyataan tertulisnya, Rabu (1/4).

Padahal menurutnya, primer ini adalah bahan pokok yang digunakan untuk menguji reaksi sampel milik pasien terhadap paparan virus corona. Alhasil, proses pengujian sampel pasien menjadi lamban, meskipun DIY mampu melakukan tes infeksi virus corona (Covid-19) secara mandiri.


"Ketersediaan primer tetap tergantung pada pasokan dari pusat," ujar Aji.

Oleh karena itu, Aji mengatakan pihaknya sedang mengupayakan untuk meminta primer tersebut ke pusat.

"Pemerintah pusat sebaiknya sesegera mungkin menyediakan Primer. Dengan begitu, proses pemeriksaan bisa berjalan lancar dan tidak mengalami kendala berupa penumpukan sampel," harapnya.

Sementara itu, anggota gugus tugas Percepatan Penanganan Covid-19 DIY Bidang Kominfo Ditya Nanaryo Aji menyatakan data per 1 April 2020, total Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang sudah diperiksa atau di-swab sebanyak 224 orang. Dari jumlah tersebut, sampel dari 131 orang masih dalam proses uji lab. Ada sembilan PDP yang masih menunggu hasil lab sudah meninggal dunia.

Selain itu, sebanyak 65 orang telah dinyatakan negatif, serta 28 orang dinyatakan positif Covid-19 (rawat inap 23; sembuh 2; dan meninggal 3 orang).

Empat Pasien Positif Baru

Terpisah, Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menyatakan tambahan pasien positif per 1 April ada empat orang.

Seperti dikutip dari Antara, Berty mengatakan empat pasien PDP yang dinyatakan positif tersebut seluruhnya merupakan warga Kabupaten Sleman yang terdiri atas tiga pasien laki-laki berusia 27 tahun, 44 tahun, dan 22 tahun, serta satu perempuan berusia 52 tahun.

Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan mengatakan bahwa empat pasien baru yang berstatus positif di RSUP Sardjito seluruhnya imported case atau tertular Covid-19 dari luar daerah.

"Semuanya pernah berkunjung di ibu kota [DKI Jakarta] dan ada yang dari Serang, Banten," kata Banu.

Stok Primer Covid-19 Menipis Hambat Pemeriksaan Lab di YogyaRSUP Dr Sardjito merupakan rumah sakit rujuka penanganan Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta. (CNN Indonesia/Trie)
Ketua Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Yogyakarta Heroe Poerwadi menyatakan sepanjang Maret 2020 jumlah warga yang tiba di kota gudeg itu, baik dari luar daerah maupun luar negeri, mencapai sekitar 550 orang dan tersebar di seluruh kelurahan.

"Sebagian besar adalah keluarga dari warga setempat dan mereka langsung masuk dalam daftar orang dalam pemantauan (ODP) terkait Covid-19," kata Heroe di Yogyakarta, Rabu.

Heroe mengatakan warga pendatang tersebut telah diminta melakukan isolasi secara mandiri di rumah selama 14 hari sebagai upaya pencegahan penularan virus Corona dengan pemantauan ketat dari puskesmas setempat.

"Ada empat warga yang pulang dari luar negeri. Satu di antaranya bekerja di kapal pesiar," kata Heroe.

[Gambas:Video CNN]
Heroe pun menegaskan kepada warga yang baru tiba di kota Yogyakarta wajib melapor ke RT/RW setempat dan pengurus wilayah menyampaikan pengumuman agar warga sekitar tidak menemui atau bertamu selama 14 hari ke rumah tersebut, sembari memantau kondisi kesehatan pendatang tersebut.

Jika selama isolasi, warga mengalami batuk, demam, flu, sesak nafas dan keluhan kesehatan lain maka diharapkan segera mendatangi puskesmas dan apabila membutuhkan rujukan maka akan dirujuk ke rumah sakit rujukan untuk penanganan Covid-19.

"Saya kira, warga pendatang maupun warga Kota Yogyakarta sudah memiliki kesadaran untuk melakukan isolasi dan memeriksakan kondisi kesehatannya. Sepanjang Maret saja, ada lebih dari 9.000 warga yang memeriksakan diri ke puskesmas karena merasa mengalami gejala terinfeksi Corona. Jumlah tersebut belum termasuk warga yang periksa ke rumah sakit swasta," kata Heroe.

(tri, Antara/kid)