Hasil kala mengikuti rapid test di sebuah rumah sakit, 19 Maret lalu, menyatakan dirinya positif terinfeksi Covid-19. KY menepi dari pertempuran utama untuk menghadapi pertempurannya sendiri.
"Saya stress luar biasa," terang KY saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (3/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisinya semakin memburuk dua hari kemudian. Ia lantas memutuskan untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan di rumah sakit tempatnya bekerja. Di sana KY menjalani tes pertama, rapid test dan CT scan. Hasilnya, KY disebut berpotensi besar positif Covid.
Sambil memanggul kecemasan KY berusaha menenangkan diri. Tapi bukan hal mudah. Kabar dirinya tertular corona tersebar. Bahkan sampai muncul gosip dirinya tewas karena Covid-19.
"Saya digosipkan meninggal, Jumat (20/3) malam, teman-teman telepon saya 01.00 WIB, mereka nangis-nangis, Direktur regional RS saya bekerja juga sampai menghubungi," kenang KY.
Tenaga medis menangani pasien virus corona. (ANTARA FOTO /Aswaddy Hamid) |
Alasan dokter itu, RSUP Persahabatan berstatus RS rujukan khusus pasien Covid-19. Ruangan penuh. Situasi tersebut ditakutkan membuat KY bertambah stress.
"Di sini enggak bisa istirahat, kamu akan terlalu stress karena pasiennya banyak," ujar KY menirukan ucapan teman sejawatnya.
Kondisi KY tak kunjung membaik, malah semakin buruk. KY merasa demam dan sesak nafas semakin hebat pada 23 Maret. Pihak RS memberikan alat bantu oksigen untuk meringankan sesak nafasnya. Malam itu ia dirawat di ruang isolasi yang berkapasitas satu pasien saja.
Keesokan harinya baru KY menjalani tes spesimen SWAB.
Masa Pemulihan
KY menuturkan hasil SWAB baru ia terima pada 31 Maret. Hasilnya, merujuk spesimen 24 Maret, KY dinyatakan positif terjangkit corona. Namun, sejak 26 Maret, pihak rumah sakit menyatakan KY membaik dan diperbolehkan melakukan isolasi mandiri di rumah.
"Karena saya juga dokter paru, pengobatan sesuai guideline, sampai sekarang saya masih minum vitaminnya kok," kata KY.
KY menyebut kadar kepanikannya berangsur menurun setelah terisolasi dari berita-berita corona.
"Salah satu healing mental saya, saya tidak nonton tv, tidak buka social media, saya matikan handphone," terangnya.
KY kini menghabiskan masa isolasi mandiri di rumah, meski begitu ia tetap memperhatikan betul protokol kesehatan.
Tenaga medis menangani pasien virus corona. (AP/Luca Bruno) |
"Dengar suara anak lewat tembok saja sudah memberikan semangat," kenangnya getir.
Secara klinis KY merasa sudah sangat sehat. Namun ia masih harus menunggu hasil tes SWAB kedua. KY menjalani SWAB kedua pada 31 Maret. Jika tak ada kendala, hasilnya bisa diketahui 7 April mendatang.
Pria yang pekan depan akan merayakan ulang tahun ke-39 ini berharap kesembuhan total sebagai hadiah khusus untuknya.
"Sudah gatal ingin turun ke lapangan menangani pasien lagi," ucapnya sembari tertawa.
Dia masih ingat perjuangannya merawat para pasien corona. Setelah kasus pertama positif Covid-19 diumumkan pemerintah, 2 Maret lalu, tren pasien Covid-19 terus merangkak naik.
"Saya ingat kasus pertama Covid-19 yang saya pegang tanggal 11 Maret," kata dia.
[Gambas:Video CNN]
Menurutnya kunci kesembuhan utama adalah pikiran yang positif. "Karena bagaimanapun imunitas adalah penting dan itu tergantung kepada kondisi mental, terapi psikologis membuat pasien nyaman," terangnya.
Atas dasar itu dia menyebut pihak rumah sakit seharusnya segera mengizinkan pasien pulang saat yang bersangkutan telah menunjukkan gejala membaik.
Dia bilang penting bagi pasien yang sudah membaik untuk melakukan isolasi mandiri di rumah ketimbang di rumah sakit. Sebab, menurutnya, kondisi rumah sakit dapat memberikan efek 'tidak bahagia' bagi pasien. (wis)
Tenaga medis menangani pasien virus corona. (ANTARA FOTO /Aswaddy Hamid)
Tenaga medis menangani pasien virus corona. (AP/Luca Bruno)