Mereka adalah Bernadatte Albertina dari IDI cabang Makassar dan Ketty Herawati Sultana dari IDI cabang Tangerang Selatan.
Adib mengatakan kedua dokter tersebut tidak memiliki spesialisasi paru. Bernadette merupakan dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan, kepala dan leher. Sedangkan Ketty tidak memiliki gelar spesialis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku banyak rekan dokter yang terjangkit virus corona padahal tidak menangani pasien corona langsung di rumah sakit rujukan. Misalnya dokter yang bertugas di Unit Gawat Darurat (UGD) sampai yang praktek di klinik swasta.
"Walaupun kita juga paham ada keterbatasan APD ini secara internasional, dunia juga banyak butuh APD. Oleh karena itu kita beri saran ke teman sejawat, dalam melakukan layanan sekarang ini prioritaskan yang emergency saja," ujarnya.
Dokter juga diminta mengurangi frekuensi praktek. Dan bagi dokter yang bertugas di fasilitas kesehatan primer, klinik atau puskesmas, Adib mengatakan sebaiknya konsultasi dilakukan secara daring. Begitu pula dengan pengiriman obat.
Seiring bertambahnya angka positif corona di Indonesia, jumlah tenaga medis yang terpapar hingga meninggal dunia juga terus bertambah. Perkara keterbatasan APD juga jadi persoalan dalam menangani wabah menular ini.
[Gambas:Video CNN]
Pada Kamis, (2/4), Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengatakan sebanyak 13 dokter meninggal dunia sepanjang penanganan penyebaran kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 belum merilis data terbaru mengenai jumlah dokter dan tenaga medis yang meninggal karena corona. (fey/wis)