Pemerintah Minta Informasi Relawan Tak Bikin Warga Cemas

CNN Indonesia | Minggu, 05/04/2020 12:15 WIB
Pemerintah Minta Informasi Relawan Tak Bikin Warga Cemas Ilustrasi relawan lawan Covid-19. Kepala Balilatfo Kemendes PDTT meminta anggota relawan desa lawan Covid-19 memberikan info yang jelas ke masyarakat dan tak membuat cemas. (ANTARA FOTO/Maulana Surya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Relawan desa lawan Covid-19 diminta menyampaikan informasi secara jelas dan utuh kepada masyarakat terkait penanganan dan pencegahan wabah virus corona Covid-19. Hal ini agar tidak terjadi kecemasan di tengah masyarakat.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, dan Informasi (Balilatfo) Kemendes PDTT, Eko Sri Haryanto mengatakan pembentukan relawan desa merupakan implementasi dari Surat Edaran Menteri Desa dan PDTT Nomor 8 Tahun 2020 tentang Desa Tanggap Covid-19.

"(Relawan desa harus) mengelola kendali informasi, jangan sampai masyarakat cemas karena info-info tidak jelas. Harus bisa menjelaskan dengan baik, bahwa penularan, pencegahan, itu harus jelas ke masyarakat," ujar Eko dalam keterangan pers di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Minggu (5/4).



Relawan dan perangkat desa, kata dia, juga harus memulai pranata sosial baru. Mereka harus mengetahui kebutuhan masyarakat desa agar tidak memunculkan konflik sosial. Misalnya dengan aturan baru dalam menerima tamu, pemakaman jenazah, termasuk kegiatan keamanan lingkungan.

"Sehingga tidak terjadi lagi penolakan terhadap pemakaman [jenazah korban virus corona], diberikan pengertian soal itu, agar tidak terjadi dampak psikologis, jadi takut, panik dan sebagainya," kata Eko.

Relawan beserta perangkat desa, ketua RT/RW, juga harus memetakan secara jelas data klinis dan dampak ekonomi di lingkungan desa akibat virus corona.

Eko menjelaskan, pihak Kemendes juga telah menyiapkan formulir yang berisi 21 pertanyaan yang akan diberikan kepada para relawan desa untuk mendata kesehatan masyarakat.


Relawan, kata dia, juga perlu mendeteksi gejala kesehatan yang terjadi di masyarakat. "Ada beberapa data yang disiapkan khusus untuk kesehatan. Selain itu juga ini adalah cara memudahkan kita menilai risiko pribadi terhadap Covid-19," ujarnya.

Ia mengatakan, Desa Panggungharjo, Bantul, Yogyakarta yang sudah mulai menerapkan desa tanggap Covid-19 bisa menjadi contoh di desa-desa lainnya.

Para relawan dan perangkat desa di Panggungharjo, kata dia, sampai saat ini bisa mengetahui jumlah warga yang melapor terkait penyebaran virus corona.

"Ternyata ada 6.827 orang yang melapor, 4.650 orang sehat, 700 orang non-indikasi, ini harus dicari. 3 ODP pernah kontak positif covid, 17 ODP pernah kontak positif disertai dengan gejala, 35 orang ODP dan pernah kontak dengan positif Covid dengan gejala sakit," ucap Eko.

"Di semua data itu harus ada kejujuran masyarakat, ada faktor kejujuran, ada faktor taat, komitmen. Itu semakin cepat membatasi penyebaran Covid-19 di desa," lanjutnya. (dmi/end)