Kebijakan itu diambil karena berdasarkan informasi dari posko Nunukan, ditemukan empat penumpang yang positif terinfeksi virus corona (Covid-19).
Pernyataan ini ia sampaikan menindak lanjuti video yang beredar yang menunjukkan para penumpang kapal terlihat mengungkapkan amarahnya lantaran tidak diperbolehkan bersandar di Maumere.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pelayarannya menuju Maumere, Roberto mengungkapkan anak buah kapal (ABK) KM Lambelu tidak diganti. Atas informasi dari posko Nunukan, ia menuturkan pihaknya melakukan pemeriksaan cepat atau rapid test yang mengungkap tiga ABK yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona (Covid-19).
"Nah, ditemukan ini sudah mengarah ke positif. Besok kita lakukan swab untuk tiga orang. Satu orang itu penjaga kantin; seorang ibu. Dua orangnya itu adalah ABK yang kemarin mengikuti juga kegiatan di Gowa," tuturnya.
Berdasarkan hal tersebut, Pemkab Sikka-- berdasarkan arahan Gubernur Nusa Tenggara Timur-- memutuskan untuk tidak mengizinkan kapal tersebut bersandar di Maumere. Hal itu, terang Roberto, demi kepentingan kesehatan warga lainnya.
"Kita harus lakukan pengecekan lebih detail supaya bisa melindungi masyarakat di sini juga," katanya.
Roberto menuturkan tadinya para penumpang KM Lambelu akan dikarantina di kapal. Namun, rencana tersebut malah mendapat penolakan yang berujung kepada kemarahan penumpang kapal.
Ketika disinggung penumpang yang nekat terjun ke laut, ia mengklaim mereka sudah dikembalikan kembali ke kapal KM Lambelu.
"Nah, lompat. Mereka protes supaya kapal itu dipaksa untuk bersandar. Kalau bersandar dengan penumpang 238 orang, kami punya kapasitas dengan alat pelindung diri (APD) saja kurang," imbuh dia.
Saat ini, Roberto menyatakan KM Lambelu beserta penumpangnya masih berada di laut dan dalam pengawasan pihaknya. (asa/ryn/asa)