Erupsi Anak Krakatau Tak Picu Anomali Permukaan Air Laut

Tim | CNN Indonesia
Sabtu, 11 Apr 2020 07:31 WIB
BMKG menyatakan tidak ada anomali permukaan air laut yang terdeteksi ketika erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi hingga Sabtu (11/4) dini hari. Ilustrasi letusan Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyatakan tak ada anomali perubahan permukaan air laut ketika Gunung Anak Krakatau erupsi sejak Jumat (10/4) malam hingga Sabtu (11/4) dini hari tadi.

Hal itu ia katakan berdasarkan hasil monitoring muka laut yang dilakukan BMKG menggunakan Tide Gauge di Pantai Kota Agung, Pelabuhan Panjang, Binuangen, dan Marina Jambu, serta Radar Weda yang berlokasi di Kahai, Lampung dan Tanjung Lesung, Banten.

"Sejak 10 April 2020 pukul 22.00 WIB tadi malam hingga pagi ini 11 April 2020 pukul 05.00 WIB tak ada anomali perubahan muka laut," kata Daryono kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (11/4).

"Di dua lokasi itu (Tide Gauge dan Radar Wera) tidak terjadi anomali muka laut sejak 10 April 2020 pukul 22.00 tadi malam hingga pagi ini 11 April 2020 pukul 5.00 WIB,"

Daryono juga menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau tadi malam tak memicu terjadinya gelombang tsunami.

Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau erupsi pada Jumat malam pukul 21.58 WIB dan menghasilkan kolom abu setinggi 657 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal condong ke arah utara.

Pantauan PVMBG juga terlihat bahwa letusan terus berlangsung sampai Sabtu pagi (11/4) pada pukul 05.44 WIB.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan status aktivitas Gunung Anak Krakatau tak dinaikkan dan masih level II (Waspada). BNPB juga meminta masyarakat tak perlu panik karena aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sudah mereda.

Diketahui, Gunung Anak Krakatau berada dalam status aktivitas Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 lalu. Status itu mengalami peningkatan sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019.

Terdapat empat level aktivitas gunung berapi, yaitu normal (tidak ada perubahan secara visual dan seismik), waspada (menunjukkan peningkatan aktivitas), siaga (terjadi peningkatan seismik secara intensif dan terlihat secara visual), dan awas (sedang dalam kondisi kritis dan dapat menimbulkan bencana).

(rzr/vws)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER