Polisi Ungkap Kronologi Bentrok Tambang di Banyuwangi

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 12/04/2020 19:17 WIB
Polisi mengungkap kronologi bentrok antara kelompok penolak tambang terhadap PT.BSI di Banyuwangi. Ilustrasi. Aktivitas PT Merdeka Copper. (Dok. Merdeka Copper)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polres Kota Banyuwangi menyebut bentrok di Kecamatan Pesanggaran, Kota Banyuwangi pada akhir Maret dipicu aksi protes kelompok penolak tambang terhadap PT. Bumi Suksesindo (BSI) soal pencegahan virus corona (Covid-19).

Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Arman Asmara Syarifuddin mengklaim massa aksi dari kelompok penolak tambang memanfaatkan isu corona untuk mendesak penghentian aktivitas tambang.

"Maksud dan tujuan massa aksi yakni tetap menginginkan pihak PT. BSI untuk berhenti beroperasional dengan melakukan aksi penghadangan yang berdampak terganggunya aktivitas operasional PT. BSI," kata Arman lewat keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Minggu (12/4).


Kejadian bermula pada Kamis (26/3) malam saat kelompok penolak tambang mengadang 22 kendaraan pengangkut milik PT. BSI. Aksi berlangsung di Simpang 3 Lowi Dusun Silirbaru, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Aparat kepolisian sempat meminta para supir untuk bersiap jalan. Namun warga penolak tambang memprotes hingga polisi menunda keberangkatan kendaraan tambang itu.

Polisi sempat meminta Kepala Desa Sumberagung Vivin Agustin memediasi massa aksi. Namun mereka tetap bertahan hingga Jumat siang. Sekitar pukul 11.00 WIB, sekitar 60 orang melakukan aksi duduk di tengah jalan untuk meminta perusahaan tambang menghentikan operasinya.

"Hal tersebut dilakukan setelah mediasi dengan PT. BSI yang difasilitasi oleh Kapolresta Banyuwangi dengan menghadirkan Forpimka Pesanggaran tidak menemukan titik temu," kata Arman.

Aksi berlanjut hingga sekitar pukul 15.00 WIB. Kapolresta Banyuwangi mengambil keputusan membubarkan massa. Sebanyak 1 satuan setingkat pleton (Sst), 210 personel Polsek Rayon 210, dan 22 personel polwan dikerahkan.

Setelah Provost memastikan tak ada anggota yang membawa senjata api, pembubaran massa dilakukan. Polwan membawa para ibu dan anak ke tempat aman. Sementara aparat lainnya membuat pagar betis hingga kendaraan dapat berjalan.

Usai massa bubar, kepolisian kembali ke Kota Banyuwangi. Namun beberapa saat kemudian timbul kabar pemukulan kelompok penolak tambang oleh kelompok pro tambang. Tindakan itu dibalas pelemparan batu dan perusakan rumah oleh penolak tambang.

Kepolisian pun kembali ke Pesanggaran. Sebanyak 100 personel Brimob Polda Jatim disiagakan. Polisi mengevakuasi sekitar 120 orang kelompok pro tambang ke Pantai Mustika Dusun Pancer.

Setelah kondisi mulai kondusif, kata Arman, kepolisian melakukan penyidikan dan penyelidikan. Mereka menangkap beberapa orang terkait kericuhan tersebut.

"Dapat dinaikkannya satu orang pro tambang menjadi tersangka di mana satu orang tersebut melakukan pemukulan lebih awal kepada satu korban dan enam orang dari pihak kontra yang dinaikkan jadi tersangka. Di mana ke 6 orang tersebut melakukan pengrusakan kendaraan tiga sepeda motor, pelemparan tiga kaca rumah, dan satu kaca mobil yang diparkir," ucap Arman.

Arman mengklaim kedua pihak telah sepakat menjaga keamanan pada Kamis (30/3). Kepolisian memberdayakan tokoh agama dan tokoh masyarakat guna mencegah bentrokan terjadi kembali.

Sebelumnya, Koalisi Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) mendesak Presiden RI Joko Widodo untuk memerintahkan Kapolri Jenderal Idham Azis agar kepolisian menyetop kekerasan terhadap pejuang lingkungan semasa corona.

Sebab mereka mencatat ada sejumlah tindak kekerasan, mulai intimidasi hingga pembunuhan terhadap pejuang lingkungan. Salah satunya saat para aktivis penolak tambang melakukan aksi di Banyuwangi.

"Presiden Jokowi memerintahkan Kapolri untuk menghentikan praktik-praktik kekerasan terhadap warga yang sedang memperjuangkan hak-hak mereka akan sumber kehidupan," kata Manajer Kampanye Pangan Air & Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional Walhi, Wahyu A Perdana kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/4).

Sementara itu, Tom Malik, Corporate Communication PT Merdeka Copper, menuturkan kejadian itu bermula pada Kamis (26/3) ketika puluhan orang penolak tambang (Poktolak) mengadang kendaraan logistik PT BSI di pertigaan Lowi. Namun, pengadangan dibuka oleh aparat Polresta Banyuwangi pada Jumat sore (27/3).

"Setelah polisi membubarkan diri, massa Poktolak yang tak puas karena pengadangannya dibuka, menjadi anarkis dan mengintimidasi karyawan BSI yang kebetulan melintas. Seorang karyawan perempuan BSI cidera karena ditendang jatuh dari motornya," kata Tom dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Sabtu (11/4).

Dia menuturkan hal itu memicu kemarahan warga dan pekerja BSI namun diantisipasi aparat agar tak melakukan aksi balasan. Namun, Tom menambahkan, warga Poktolak yang berkumpul di tenda pukul 00.00 pada Sabtu (28/3) diduga menyerang ke Dusu Pancer, dengan sasaran rumah pekerja BSI. PT BSI merupakan anak usaha dari PT. Merdeka Copper. 


Catatan Redaksi: Berita ini merupakan hak jawab atas artikel "Jokowi Didesak Tegur Kapolri Stop Sudutkan Pejuang Lingkungan" (stu)

[Gambas:Video CNN]


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA