Martin berpendapat para remaja itu hanya anak muda yang sedang mempelajari banyak pemikiran. Bukan kelompok terorganisir yang hendak menimbulkan kekacauan negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Martin menyebut sejumlah buku yang dijadikan barang bukti oleh polisi seperti 'Massa Aksi' karya Tan Malaka dan 'Corat-coret di Toilet' karya Eka Kurniawan, tak ada kaitannya dengan ideologi Anarkisme.
"Dia cuma ngomong tentang orang kaya-orang miskin. Kalau Anarko Sosialis kan artikulasinya lebih tajam tentang kelas kapitalis dan kelas buruh, ini enggak," tuturnya.
Anarko merupakan nama lain dari untuk kelompok anarkis. Kelompok ini mengusung ideologi anarkisme.
Dalam Anarkisme, kata Martin, kehidupan ideal adalah saat tidak lagi ada negara, sehingga setiap orang bisa bebas menikmati hidupnya sendiri. Namun tak ada ajaran penggulingan negara.
"Over reaksi ketika polisi menganggap itu sebagai gerakan yang mau melakukan kekacauan," ucap Martin.
Polda kemudian melabeli mereka sebagai kelompok Anarko. Bahkan Kapolda Metro Jaya menyebut Anarko merencanakan penjarahan besar-besaran di Jakarta pada Sabtu (18/4). (dhf/wis)