Ia mengatakan sebagian besar masyarakat yang terdampak telah menguasai keahlian kerja di bidang masing-masing. Namun mereka kehilangan penghasilan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
"Buruh yang kena PHK, tidak membutuhkan kartu prakerja, yang dibutuhkan dia adalah tunai, bantuan tunai. Programnya bagus, tapi di waktu yang tidak tepat," kata Trubus saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (16/4)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kartu Prakerja ini tidak dibutuhkan dalam konteks sekarang karena ini lebih baik diluncurkan nanti saja setelah Corona, saat sudah normal kembali," tuturnya.
Kunto mempertanyakan target yang akan dicapai Jokowi. Jika targetnya membangkitkan kondisi ekonomi di akar rumput, kata dia, kebijakan ini tidak tepat.
"Enggak masuk akal. Pelatihan Rp1 juta untuk tiga bulan, terus habis tiga bulan masih nganggur juga. Bukan karena mereka kurang skill, karena memang enggak ada perusahaan, ekonominya memang lagi lesu," ucap Kunto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (16/4).
Belum lagi menyoal jumlah dana yang dikucurkan, kata Kunto. Setiap orang penerima Kartu Parkerja akan menerima dana Rp3,5 juta. Rp1 juta ditujukan untuk biaya pelatihan. Sementara sisanya diberikan sebagai insentif secara berlangsung selama tiga bulan.
Padahal, menurutnya, dengan jumlah uang itu pemerintah bisa memberikan bantuan langsung yang layak kepada masyarakat. Terkait persiapan daya saing tenaga kerja Indonesia, ucapnya, bisa dilakukan setelah pandemi mereda.
"Kalau untuk Covid, sudahlah pakai program yang langsung duit saja, untuk meredakan efek Covid di akar rumput," ucap Dosen Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjaran tersebut.
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian |
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian