"Saya pulang dari zona merah Covid-19. Saya takut kalau membawa virus pulang, yang mungkin saya dapatkan dari bandara atau dari mana saja. Kalau saya di rumah, pasti 80 persen akan kontak langsung dengan keluarga," ujar Yogi kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (18/4).
"Inilah alasan saya mengisolasi diri di tempat yang jauh dari keluarga. Saya ingat papa punya pondok kecil di sawah. Sebelum pulang, saya minta keluarga menyiapkan pondok itu sebagai tempat isolasi," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yogi adalah seorang wirausahawan yang membuka toko di Bogor, Jawa Barat. Dia sudah menutup toko akibat terdampak virus corona. Yogi kekurangan pelanggan.
Namun, karena wabah Covid-19, pelatihan itu ditunda. Telkom belum memberikan informasi jadwal lanjutan.
Selama perjalanan pulang, Yogi bersikap hati-hati agar tidak tertular virus corona. Misalnya, setiba di Bandara Internasional Minangkabau ia mandi dan mengganti pakaian serta membungkus pakaian lama dengan kantong plastik.
Ketika tiba di rumah, ia tidak menyalami keluarganya, tetapi langsung pergi ke tempat isolasi yang jaraknya 300 meter dari rumahnya.
"Sebenarnya saya ingin sekali bersalaman dengan keluarga saya. Saya rindu karena sudah setahun tidak pulang," ucapnya.
Ia terinspirasi mengisolasi diri di tempat yang jauh karena mengetahui banyak penularan virus dari perantau. Karena itu, ia meminta kepada pemerintah daerah di Sumbar untuk mewajibkan perantau yang pulang kampung mengisolasi diri.
"Kalau cuma imbauan, banyak perantau yang tidak mengindahkannya pentingnya isolasi," ujarnya.