Data itu akan dimanfaatkan untuk pemberian bantuan sosial agar napi terkait tidak mengulangi kriminalitas akibat terdesak kebutuhan perut.
"Kalau kita dapat datanya kan enak. Warga saya yang dipulangkan [dari lembaga pemasyarakatan] itu siapa saja, toh? Saya kan bisa beri bantuan dari dana tanggap darurat. Syukur-syukur bisa memberi pekerjaan atau bantuan modal," kata Rudy, ditemui di Balai Kota Solo, Senin (20/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudy, yang merupakan kader PDIP, mengaku tidak keberatan dengan pembebasan narapidana dari lapas. Namun menurutnya kebijakan Kemenkumham itu kurang komprehensif.
Napi yang baru bebas, katanya, tidak akan bisa langsung mendapat pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terlebih, kondisi ekonomi kian sulit akibat pandemi Covid-19.
[Gambas:Video CNN]
Di samping menyiapkan bantuan, Rudy juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian, serta menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi menjaga keamanan lingkungan.
Dia mengaku telah membuat surat edaran ke ketua RW agar menyiapkan kentongan di lingkungan masing-masing. Petugas ronda diharuskan membunyikan kentongan setiap pergantian jam di malam hari untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
"Jadi dipastikan setiap saat ada yang jaga untuk mengantisipasi agar tidak ada pencurian," kata Rudy, yang merupakan wakilnya Jokowi saat menjabat Wali Kota Solo itu.
Kemenkumham menyebut sejauh ini ada 12 napi yang dicabut hak asimilasinya karena kembali melakukan kejahatan. Namun, lembaga pimpinan Yasonna Laoly itu tak memaparkan lebih jauh soal solusi pemenuhan kebutuhan ekonomi bagi napi yang dilepas.
(syd/arh)